Hamka Sabri: Tak Ada Lagi Anak sebagai Pekerja, Tolak Ukur KLA

Membebaskan anak sebagai pekerja merupakan salah satu implementasi program Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA).

Penulis: Beta Misutra | Editor: Yunike Karolina
Beta Misutra/TribunBengkulu.com
Hamka Sabri 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Beta Misutra

 

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Membebaskan anak sebagai pekerja merupakan salah satu implementasi program Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA).

Di Provinsi Bengkulu sendiri masih ditemui pekerja yang masuk dalam usia anak-anak.

Dikatakan Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Bengkulu, Hamka Sabri pembebasan anak-anak sebagai pekerja ini merupakan salah satu tolak ukur suatu daerah ditetapkan sebagai KLA.

"Bahkan di jalanan saja masih sering kita temui anak-anak jual koran, anak-anak ngamen, jadi badut, jualan kerupuk dan lain-lain. Suatu daerah bisa disebut sebagai KLA, ini tolak ukurnya harus jelas, salah satunya pembebasan anak sebagai pekerja ini," ungkap Hamka.

Selain terbebas sebagai pekerja tujuan pembentukan KLA memiliki tujuan agar hak-hak anak terpenuhi, salah satunya seperti hak atas pendidikan.

Selain itu anak juga berhak mendapatkan perlindungan dari tindak kekerasan.

"Dari sini saja bisa kita lihat tolak ukurnya. Kalau tingkat anak putus sekolahnya tinggi, atau angka kekerasan pada suatu daerah tinggi, maka jelas bahwa tolak ukur KLA belum terpenuhi," ujarnya.

Sementara itu dalam rangka untuk menerapkan program ini menurut Hamka tentunya harus melibatkan banyak pihak.

Nantinya akan dibagi sesuai dengan tupoksi masing-masing untuk memenuhi tolak ukur keberhasilan program KLA.

"Program KLA sendiri merupakan bentuk investasi untuk membangun generasi penerus bangsa agar mereka lebih sehat, cerdas, ceria, berakhlak mulia, cinta tanah air serta terlindungi dari berbagai bentuk diskriminasi, eksploitasi dan kekerasan," kata Hamka.

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved