Minggu, 12 April 2026

Kacang Kedelai Sulit Dikembangkan di Bengkulu, Pernah Dicoba Tapi Gagal

Pengembangan varietas kacang kedelai di Provinsi Bengkulu masih sulit dilakukan. Hal itu pernah dibuktikan dengan program pemerintah beberapa waktu.

Penulis: Muhammad Panji Destama Nurhadi | Editor: M Arif Hidayat
Panji/Tribunbengkulu.com
Bengkulu sulit untuk dikembangkannya varietas kacang kedelai. Akibatnya, produktifitas tahu tempe terpaksa ditekan lantaran kedelai mahal dan langka 

 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Pengembangan varietas kacang kedelai di Provinsi Bengkulu masih sulit dilakukan. Hal itu pernah dibuktikan dengan program pemerintah beberapa waktu lalu untuk pengembangan kacang kedelai, namun gagal.

"Produksi kedelai di Bengkulu sangat kecil sekali, hampir tidak ada karena kurang cocok," kata Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan (DPTHP) Provinsi Bengkulu, Rosmala Dewi kepada TribunBengkulu.com, melalui pesan Whatsapp, pada Jum'at (25/2/2022).


"Bengkulu tidak ada pengembangan kacang kedelai, data yang ada hanya petani mandiri sangkat sedikit. Pernah beberapa tahun lalu produksi kacang kedelai dilakukan namun gagal" ujar Rosmala Dewi.

Sebelumnya, Ketua Umum Badan Pengurus Daerah (BPD), Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Bengkulu, Undang Sumbaga menanggapi harga kacang kedelai yang naik serta produksi tahu tempe yang menurun di Bengkulu.

Menurutnya, tempe dan tahu merupakan makanan wajib bagi masyarakat Indonesia, hal ini menjadi kebutuhan bagi masyarakat.


"Kita sangat terbebani dengan kacang kedelai impor untuk melakukan produksi tahu tempe," kata Undang Sumbaga, kepada TribunBengkulu.com, Senin (21/2/2022).

Undang menambahkan, pihaknya juga sudah melakukan hearing bersama dinas terkait, perihal produksi tahu tempe yang sebelumnya sempat meningkat.

"Kita sudah bertemu dengan dinas pertanian terkait produksi tahu tempe yang sudah naik, kita juga meminta pemerintah memfokuskan komoditas kedelai ini khususnya Bengkulu agar produksi kacang kedelai naik," ujar Undang.

Menurutnya, hal ini dirasa perlu lantaran produksi kacang kedelai ini sama dengan jagung yang masih bergantung bahan utamanya dari impor.

"Kita berupaya mendorong dinas pertanian untuk memberikan penyuluhan, bantuan bibit, jaminan penyerapan hasil panen untuk petani. Hal ini belum pernah dilakukan," terang Undang.

Ia menjelaskan, padahal komoditas lainnya seperti jagung, wortel dan palawija lainnya suda mulai difokuskan untuk produksinya.

"Kalau tidak ada tahu dan tempe ada yang kurang saat makan," kata Undang.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved