Selama 2022 Dinkes Kota Bengkulu Menerima Laporan 5 Balita Gizi Buruk: Pola Asuh Mempengaruhi

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bengkulu mencatat ada 5 balita yang diberikan penanganan gizi buruk, sesuai dengan laporan selama tahun 2022.

Penulis: Achmad Fadian | Editor: Yunike Karolina
Achmad/TribunBengkulu.com
kata Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinkes Kota Bengkulu, Yupita saat diwawancara terkait penanganan balita gizi buruk di Kota Bengkulu, Rabu (23/3/2022). 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Achmad Fadian


TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bengkulu mencatat ada 5 balita yang diberikan penanganan gizi buruk, sesuai dengan laporan selama tahun 2022.

Penyebabnya, rata-rata karena ada penyakit penyerta.

"Sebenarnya bukan gizi buruk, tapi gizi kurang, karena ada penyakit penyerta," kata Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinkes Kota Bengkulu, Yupita.

Lebih lanjut Yupita menerangkan, gizi buruk terkadang disebabkan oleh adanya penyakit penyerta.

Jika penyebabnya karena kekurangan kalori protein, itu kemungkinannya kecil.

"Karena ada penyakit penyerta. Terkadang orangtua tidak terlalu peduli dengan PHBS (Prilaku Hidup Bersih Sehat). Orang tua merokok, asapnya menyebab anak terhirup asap rokok tersebut. Sehingga bisa mempengaruhi ke paru-paru," ujar Yupita kepada TribunBengkulu.com, Rabu (23/3/2022).

Yupita menerangkan, penderita gizi buruk umumnya ditemukan pada keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah.

Penyebabnya, tidak menerapkan pola hidup sehat, lingkungan sekitar kurang bersih. Serta pola asuh orang tua juga.

"Dibawalah ke orang pintar tadi, katanya anak itu bersisik, tidak boleh makan ikan, telur. Padahal itulah yang makanan yang menambah asupan gizi anak," kata Yupita.

Yupita menambahkan, Dinkes Kota Bengkulu memprioritaskan anak-anak di usia balita dalam penanganan gizi buruk.

Ketika mendapatkan laporan ada anak atau balita dengan gizi buruk mereka langsung merespon dengan memberikan penanganan pertama.

Mulai dengan memberikan asupan gizi hingga makanan pendampingnya. Apabila belum belum juga sehat, maka akan dirujuk ke rumah sakit.

"Kalau dirawat di rumah didampingi dokter gizi puskesmas setempat. Diajarkan, cara pola asuh, makan," jelas Yupita.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved