Cerita Owner Akilah 2R Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19, Ubah Daun Kelor Menjadi Keripik

Almarika Yunita (40), pelaku UMKM di Bengkulu  ini mengaku selama pandemi Covid-19 omset penjualannya turun hingga 75 persen.

Penulis: Achmad Fadian | Editor: Yunike Karolina
Achmad/TribunBengkulu.com
Owner UMKM Akilah 2R Bayangkari, Almarika Yunita menunjukan salah satu produk jualannya, Kamis (24/03/2022) 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Achmad Fadian

 

​TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Almarika Yunita (40), pelaku UMKM di Bengkulu  ini mengaku selama pandemi Covid-19 omset penjualannya turun hingga 75 persen, khususnya saat kasus sedang naik-naiknya.

Meskipun Begitu, Yunita sapaan akrab dari owner Akilah 2R Bhayangkari tidak berputus asa.

Wanita berjilbab pink ini terus berjuang di tengah pandemi Covid-19.

Berbagai cara dilakukannya untuk terus bertahan, di antaranya melakukan inovasi terhadap produk-produk yang dijajakannya.

"Yang paling utama, inovasi kemasan produk. Kalau dulu dari kemasan plastik, transparan jatuh langsung makanan itu hancur," kata Yunita ditemui di tokonya yang berlokasi di Jalan Soekarno Anggut, Kamis (24/3/2022).

Menurut Yunita, mengganti kemasan berbeda, kemasan aluminium foil membuat masyarakat penasaran. Meskipun modalnya lebih tinggi dibandingkan kemasan biasa.

Begitupun agar produknya ini tetap dibeli, berbagai macam cara dijalankan Yunita.

Termasuk dengan memanfaatkan teknologi, berjualan online.

Apalagi, saat pandemi sedang naik-naiknya, toko nya itu sepi pengunjung. Membuat produk makanan yang dijualnya banyak kedaluwarsa.

"Omset terjun bebas 75 persen, di toko tempat kami titip barang, tidak ada yang laku. Ditahun 2020 lalu, memproduksi banyak makanan untuk lebaran karena tak laku dan memasuki masa kedaluwarsa, terpakasa dibuang begitu saja," cerita Yunita kepada TribunBengkulu.com.

Yunita menambahkan, selama 2 tahun terakhir penjualan menurun drastis. akan tetapi untuk tahun ini sudah mulai membaik. Setelah pariwisata dibuka kembali, dan wisatawan diperbolehkan berkunjung ke Bengkulu.

"Wisatawan datang ke Bengkulu itu sangat berpengaruh di jualan kami, mereka membeli dengan jumlah banyak,"  ungkap Yunita.

Produk paling favorit dibeli wisatawan, lanjut Yunita, yaitu keripik rendang dan keripik daun kelor.

Kata Yunita, yang membuat cita rasa enak, karena ditaburi  bumbu rendang di dalam keripik tersebut.

Keripik daun kelor, juga dibuat campuran coklat.

"Untuk harga dikisaran Rp 25.000 sampai Rp 30.000, sekali produksi minimal 20 kg," terang Yunita.

Selain produk kripik yang inovatif itu, Yunita juga menjual makanan dan minuman khas Bengkulu.

Ikuti kami di

AA
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved