Kisah Kakek Riduan yang Hidup Sebatang Kara, Sudah 16 Tahun Ditinggal Istri dan Anak

Kakek Riduan (65) warga Kelurahan Kebun Ros Kecamatan Teluk Segara yang kakinya membusuk dan mengalami  patah pinggang usai menjadi korban tabrak lari

Penulis: Beta Misutra | Editor: M Arif Hidayat
Beta Misutra/Tribunbengkulu.com
Kondisi kakek Riduan warga Kelurahan Kebun Ros Kota Bengkulu yang hanya bisa terbaring di atas tempat tidur karena kakinya mengalami pembusukan dan patah pinggang akibat menjadi korban tabrak lari beberapa waktu yang lalu. 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Beta Misutra

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Kakek Riduan (65) warga Kelurahan Kebun Ros Kecamatan Teluk Segara yang kakinya membusuk dan mengalami  patah pinggang usai menjadi korban tabrak lari, ternyata memiliki istri dan anak. Namun sayangnya ia sudah lama berpisah dengan anak dan istrinya sejak tahun 2006 lalu.

Dikatakan Leni, adik kandung dari Kakek Riduan bahwa sebelumnya Kakek Riduan tinggal di Jakarta bersama istri dan 1 orang anak laki-lakinya. Namun. Karena dirinya yang sudah kesulitan untuk bekerja akibat penyakit diabetes yang dideritanya, sehingga ia berpisah dari anak dan istrinya dan memutuskan untuk pulang ke Bengkulu.

"Rumah yang saya tunggu ini kan rumah tua, yang saya tunggu bersama 2 anak saya. Jadi tahun 2006 itu dia pulang dan  tinggal di kamar depan yang terpisah dari ruang utama rumah ini," ungkap Leni.

Leni mengatakan, sejak itu baik anak maupun istri Kakek Riduan sudah tidak pernah menghubungi Kakek Riduan lagi. Bahkan dirinya sempat mencari kontak anak dari Riduan yang berada di Jakarta dan kebetulan berhasil mendapatkan kontak tetangga dekat rumahnya.

"Namun saat kami hubungi, kata tetangganya anak kakak saya itu malah marah, sehingga ia tidak bisa untuk mengirimkan kontak anak kak Riduan tersebut kepada kami," ujarnya.

Diakui Leni satu-satunya kenangan yang tertinggal dari anak dan istri kakaknya tersebut hanya foto dari anaknya. Itupun merupakan foto yang kurang bagus karena gambarnya yang kurang fokus.

"Jadi anaknya itu tidak mau di foto, makanya gambar di foto itu tangannya berbayang. Foto itulah yang kini di bingkai oleh kak Riduan dan dipajangnya di kamarnya itu," kata Leni.

Terpisah, Fairuz salah satu Keponakan Kakek Riduan mengatakan, akhir-akhir ini bahkan kakek Riduan sering berbicara sendiri. Karena suaranya yang pelan, sehingga mereka juga tidak terlalu tahu apa yang ia bicarakan.

Sedangkan untuk kebutuhan mandi dan buang air, Kakek Riduan masih melakukannya sendiri, hanya saja untuk aksesnya yang dibantu oleh keponakannya.

"Misalnya mau mandi, diangkat di ke kursi roda, baru nanti dibawa ke depan itu untuk mandi. Kalau BAB atau BAK ada pispot yang disediakan di kamarnya, nanti paling adik-adik saya disini yang buang," ungkapnya. 

Ikuti kami di

AA
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved