Ramadhan 2022

Ada Perbedaan Awal Ramadan, MUI Bengkulu: Mari Saling Menghormati

Ketua MUI Bengkulu, Rohimin mengatakan semua pihak harus menghormati perbedaan awal Ramadan yang terjadi pada tahun ini

Penulis: Romi Juniandra | Editor: M Arif Hidayat
Tribunstyle
Doa Serta Amalan Nabi Ketika Bulan Ramadan 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Romi Juniandra


TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Ketua MUI Bengkulu, Rohimin mengatakan semua pihak harus menghormati perbedaan awal Ramadan yang terjadi pada tahun ini.


Menurut dia, Muhammadiyah yang menetapkan awal Ramadan jatuh pada Sabtu (2/4/2022) juga telah melalui proses perhitungan di Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammdiyah.


"Kita juga menghormati keputusan Majelis Tarjih Muhammadiyah. Perbedaan ini sudah biasa di masyarakat Indonesia," kata Rohimin kepada TribunBengkulu.com, Jumat (1/4/2022).


Ditambahkan Rohidin, masing-masing pihak, baik Muhammadiyah ataupun pemerintah sudah memiliki keyakinan dan panduan tersendiri dalam menentukan awal Ramadan.


"Masyarakat jaga kesejukan. Kita hargai perbedaan itu, karena semua mempunyai dasar perhitungan mengawali Ramadan," ujar dia.


Dibandingkan mempermasalahkan awal Ramadan, Rohimin mengatakan umat Islam lebih baik mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menyambut Ramadan tahun ini.


"Kita manfaatkan amal ibadah di bulan Ramadan ini semaksimal mungkin," kata dia.


Seperti diketahui, pemerintah melalui Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas telah menetapkan 1 Ramadan jatuh pada hari Minggu, 3 April 2022.


Sementara, Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Bengkulu meminta masyarakat untuk tidak saling olok jika awal Ramadhan tahun ini tidak bersamaan antara Muhammadiyah dan pemerintah.


Sekretaris PWM Bengkulu, Taufik mengatakan memang pada bulan puasa Ramadhan 1443 Hijriah atau 2022 Masehi ini, Muhammadiyah melaksanakannya terlebih dahulu.


"Tapi jangan jadi olok-olok atau ejekan. Tetap saling menghormati," ujar Taufik kepada TribunBengkulu.com, Jumat (1/4/2022).


Taufik mengatakan Muhammadiyah sudah mengimbau warganya agar tetap menjaga suasana sejuk dan saling menghormati, meskipun terdapat perbedaan waktu mulainya berpuasa.


Masing-masing pihak, lanjut dia, bisa meyakini awal Ramadhan secara masing-masing. Namun, tidak boleh melecehkan keyakinan atau pendapat yang lain.


"Perbedaan pendapat itu hal yang wajar. Bukan berarti pertentangan. Jangan memaksakan keyakinan masing-masing," kata dia.


Menurut Taufik, perbedaan pendapat waktu mulai berpuasa, itu masih dalam tujuan yang baik dan sama.


"Yang terpenting, tidak keluar dari aturan inti Islam, yakni berpuasa di bulan Ramadhan," ujarnya.

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved