Komunitas Pelus Bengkulu Desak Pemda Prioritaskan Penanganan Sampah Plastik
Buruknya kualitas air di Bengkulu mendorong peneliti, aktivis, dan jurnalis membentuk Komunitas Pelindung Sungai Bengkulu (Pelus Bengkulu).
Penulis: Kartika Aditia | Editor: Yunike Karolina
Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Kartika Aditia
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Buruknya kualitas air di Bengkulu mendorong peneliti, aktivis, dan jurnalis membentuk Komunitas Pelindung Sungai Bengkulu (Pelus Bengkulu).
Salah satu kegiatan yang sudah dilakukan dari Komunitas Pelus Bengkulu adalah aksi damai mengajak masyarakat untuk peduli sungai dan sadar akan bahaya sampah plastik yang akan ditimbulkan.
Hal tersebut diungkapkan oleh Andi Kurnia Agung, selaku koordinator Komunitas Pelus Bengkulu.
"Hari Kamis, malam Jumat, tanggal 5 bulan 5 tahun 2022 pukul 19.45 WIB kami deklarasikan Pelus Bengkulu, semoga bisa menggerakan warga Bengkulu untuk lebih mencintai dan peduli air Bengkulu," ujar Andi Kurnia Agung.
Pelus Bengkulu dideklarasikan di Umak Coffe, Jl. Kenari 7 Anggut Dalam, Kecamatan Ratu Samban Kota Bengkulu.
Sebelumnya, temuan tim peneliti dan aktivis lingkungan di Bengkulu menyebutkan bahwa Sungai Air Bengkulu, Nelas, Hulu Musi dan Danau dendam Tak Sudah terkontaminasi mikroplastik 10-20 partikel mikroplastik/100 liter air sungai.
Baca juga: Darurat Sampah Plastik, Ada 20 Timbulan Sampah Liar di Kota Bengkulu, Ini Penyebabnya
Pencemaran mikroplastik ini disebabkan oleh banyaknya sampah plsatik yang ada diperairan akibat mismanagemen pengolahan sampah Pemkot Bengkulu.
"Pemkot tidak menyediakan tempat sampah yang memadai sehingga warga buang sampah ke sungai," ungkap Andi Kurnia.
Lebih lanjut Ketua Mapetala sekaligus Koordinator Pelus Bengkulu itu menerangkan, sungai-sungai di Bengkulu saat ini sudah tercemar phospat, khlorin dan logam berat besi dan Mangan.
Ini merupakan hal yang sangat serius lantaran sungai-sungai di Bengkulu menjadi bahan baku PDAM.
Tercemarnya sungai di Bengkulu tentunya sangat berpengaruh pada kualitas kesehatan, lingkungan, dan ekosistem sungai.
Pelus Bengkulu ini bersifat terbuka. Beberapa anggota dari Pelus Bengkulu ini terdiri dari seniman, peneliti, aktivis, akademisi, mahasiswa, pelajar, pecinta lingkungan dan individu yang peduli sungai.
Dalam kesempatan itu, Andi Kurnia Agung menyatakan, dalam waktu dekat akan melakukan audiensi dengan Walikota dan Gubernur Bengkulu.
"Kami akan memaparkan temuan pencemaran klorin, phospat dan kontaminasi mikroplastik. Kami juga mendesak pemerintah untuk memprioritaskan penanganan sampah plastik," jelas Andi Kurnia.
Sementara itu, Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Joni Irwan berharap agar nantinya komunitas Pelus Bengkulu ini bisa konsisten dan berkolaborasi dengan Forum DAS Bengkulu
"Kami mendukung atas terbentuknya Komunitas Pelus Bengkulu yang punya misi ikut merawat sungai-sungai di Bengkulu," ungkap Joni Irwan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/Komunitas-Pelus-Bengkulu.jpg)