Petani Malin Deman Mukomuko Ungkap Kronologi Konflik di Lahan HGU Perusahaan

Perwakilan 40 petani yang ditangkap di Malin Deman, Mukomuko membeberkan alasan mengapa ada konflik antara perusahaan dan masyarakat setempat.

Penulis: Romi Juniandra | Editor: Yunike Karolina
Romi/TribunBengkulu.com
Lobian Anggrianto (tengah) menceritakan akar konflik lahan di Malin Deman, Mukomuko versi petani 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Romi Juniandra


TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Perwakilan 40 petani yang ditangkap di Malin Deman, Mukomuko, Lobian Anggrianto (28 tahun) membeberkan alasan mengapa ada konflik antara perusahaan dan masyarakat setempat.

Menurut Lobian, ada lahan seluas 1.889 hektar yang menjadi Hak Guna Usaha (HGU) PT Bina Bumi Sejahtera (BBS).

Oleh PT BBS, di lahan ini ditanami komoditas coklat seluas 350 hektar dan kelapa hibrida seluas 14 hektar.

Dengan demikian, ada sisa lahan yang terlantar, sehingga kemudian digarap oleh masyarakat Malin Deman dan ditanami kopi dan jengkol.

Namun, pada tahun 2005, datang PT Daria Dharman Pratama (DDP) yang mengambil alih HGU PT BBS, dan menggusur semua lahan yang sebelumnya digarap petani, tanpa ganti rugi.

Di lahan tersebut, PT DDP kemudian menanam komoditas baru, kelapa sawit.

"DDP tiba disitu, digusur lahan masyarakat. Akhirnya tahun 2016, pecah konfliknya," kata Lobian kepada TribunBengkulu.com, Kamis (26/5/2022).

Dengan demikian, kata Lobian, akar konflik antara perusahaan dan masyarakat sudah dimulai sejak lama, saat perusahaan menggusur tanaman masyarakat yang menggarap HGU terlantar milik PT BBS.

"Dan konfliknya sampai hari ini," ujar dia.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved