Sidang Kasus OTT Bupati Muba

Mantan Bupati Muba Dodi Reza Alex Noerdin Curhat Dipersidangan, Karir Hancur dan Keluarga Menderita

Mantan Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin curhat di persidangan di Pengadilan Tipikor Palembang, Kamis (23/6/2022).

Editor: Hendrik Budiman
TRIBUNSUMSEL.COM/SHINTA
Sidang Mantan Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex, mantan Bupati Muba di Pengadilan Tipikor Palembang, Kamis (23/6/2022) 

TRIBUNBENGKULU.COM - Mantan Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin curhat di persidangan di Pengadilan Tipikor Palembang, Kamis (23/6/2022).

Dodi Reza Alex Noerdin membacakan Pledoi (nota pembelaan) pada persidangan secara gamblang menyebut tuntutan 10 tahun 7 bulan penjara yang dijatuhkan JPU terhadapnya sangat kejam.

Baca juga: Petugas PPDB SMKN 5 Bandung Terjaring OTT Tim Saber Pungli, Uang Rp 40 Juta Diamankan

"Sungguh suatu tuntutan dari Penuntut umum yang sangat kejam dan dipaksakan," ujarnya dalam sidang virtual yang diketuai hakim Yoserizal SH MH tersebut.

Dodi Reza terjerat kasus dugaan penerimaan aliran dana fee proyek di Dinas PUPR Muba tahun 2021.

Baca juga: Kronologi OTT Dua Oknum Pegawai Dinkes Kota Bengkulu, Berawal dari Penyelidikan Tim Saber Pungli

Selain kurungan penjara, JPU KPK juga menuntutnya membayar denda sebesar Rp 1 miliar dan uang pengganti (UP) sebesar Rp. 2,9 miliar serta dicabut hak politiknya selama lima tahun terhitung setelah selesai menjalani masa pidana.

"Sungguh sangat berat saya rasakan," kata Dodi Reza menyampaikan perihal tuntutan itu.

Dodi Reza membantah dengan tegas perihal uang sebesar Rp.270 juta yang didapat dari hasil OTT KPK bersamaan dengan ditangkap Herman Mayori Kadis PUPR Muba dan Eddy Umari, Kabid SDA PUPR Muba.

Baca juga: Terjaring OTT, 2 Pegawai Dinkes Kota Bengkulu Berinisial R dan L Langsung Dinonaktifkan

Dengan tegas menyebut pernyataan terdakwa Herman Mayori yang menyebut uang tersebut diperuntukkan baginya adalah fitnah.

"Kejadian OTT di Sumatera Selatan, ketika saya sedang berada di Jakarta, adalah kejadian yang melibatkan staf saya Herman Mayori dan Eddy Umari bersama seorang pengusaha yang belakangan baru saya tahu bernama Suhandy. Pada saat kejadian tersebut, Herman Mayori berkilah bahwa uang OTT Rp. 270 juta itu diperuntukkan bagi saya, sebuah fitnah yang menyeret saya sehingga saya ikut diamankan di Jakarta,"

"Belakangan, di BAP penyidikan dan fakta persidangan, Herman Mayori mengakui bahwa uang itu memang diminta oleh dia dan diperuntukkan bagi dia. Tapi nasi sudah menjadi bubur, akibat fitnah tersebut saya ikut ditangkap. Karir saya hancur, keluarga saya menderita, dan cita-cita luhur untuk membangun daerah yang saya cintai kandas," ucapnya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved