Harga TBS Sawit di Bengkulu Tengah Anjlok Lagi, Turun Rp 50 Tiap Kilogramnya

Harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit di Bengkulu Tengah masih mengalami penurunan harga dalam beberapa hari terakhir, Senin (4/7/2022).

Penulis: Suryadi Jaya | Editor: Yunike Karolina
Suryadi Jaya/TribunBengkulu.com
Antrean truk pengangkut TBS di PT Agra Sawitindo terpantau mengalami peningkatan, pada Senin (4/7/2022). Harga TBS sawit di Bengkulu Tengah kembali turun. 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Suryadi Jaya


TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU TENGAH - Harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit di Bengkulu Tengah masih mengalami penurunan harga dalam beberapa hari terakhir, Senin (4/7/2022). 

Diketahui, harga TBS sawit di Kabupaten Bengkulu Tengah masih rendah, paling tinggi hanya menyentuh harga Rp 1.180 per kilogram.

Untuk di PT Palma Mas Sejati, harga TBS sawit mengalami penurunan harga sebesar Rp 50 yang sebelumnya dari harga Rp 1.160 per kilogram sekarang menjadi Rp 1.110 per kilogram.

Lalu di PT Citra Sawit Lestari, harga TBS sawit juga mengalami penurunan harga Rp 50, yang semula dari harga Rp 1.170 per kilogram, saat ini menyentuh harga Rp 1.120 per kilogram.

Hal tersebut juga terjadi di PT Agra Sawitindo yang semula dari harga Rp 1.230 saat ini menjadi Rp 1.180 per kilogram.

Namun, meski penurunan harga kembali terjadi hingga menyentuh harga Rp 1.110 per kilogram, sejumlah truk pengangkut TBS terpantau masih mengalami antrean di sejumlah pabrik kelapa sawit (PKS) di Bengkulu Tengah, Senin (4/7/2022). 

Berbeda dengan beberapa hari terakhir, pasokan TBS di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang sebelumnya tidak terjadi antrean, kini sudah mulai kembali mengantre namun tidak sampai berhari-hari. 

"Meski sudah mengalami peningkatan jumlah TBS, tapi ini masih sedikit jika dibandingkan dengan hari-hari biasa," ujar Yaumid salah satu supplier TBS di Bengkulu Tengah, Senin (4/7/2022). 

Penurunan pasokan TBS ini selain disebabkan penundaan panen oleh petani, hal ini juga diperparah dampak banjir beberapa waktu lalu. 

"Dampak banjir masih terasa hingga saat ini, banyak petani yang tidak bisa melakukan panen, walaupun bisa panen, akses untuk mengangkut hasil panen tersebut tidak bisa dilewati karena jalannya berlumpur," ungkap Yaumid. 

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved