Kontroversi Aliran Dana ACT

Densus 88 Dalami Temuan PPATK soal Dana ACT Mengalir ke Kelompok Al-Qaeda, 60 Rekening ACT Diblokir

Densus 88 Antiteror berupaya mendalami terkait adanya temuan dugaan aliran dana dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) ke kelompok Al-Qaeda.

Editor: Hendrik Budiman
TRIBUNNEWS
Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri. Densus 88 Antiteror berupaya mendalami terkait adanya temuan dugaan aliran dana dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) ke kelompok Al-Qaeda. 

"Ini masih dalam kajian lebih lanjut, apakah ini memang ditujukan untuk aktivitas lain atau ini secara kebetulan," terangnya.

Blokir 60 Rekening ACT

PPATK telah melakukan analisis terhadap lembaga Aksi Cepat Tanggap (ACT) sejak tahun 2018, lalu.

PPATK telah melakukan analisis penghimpunan dana publik yang dilakukan oleh ACT melalui penelusuran transaksi keuangan lembaga tersebut.

Perputaran dana yang masuk melalui ACT tersebut mencapai Rp1 triliun per tahunnya.

Bahkan, sebuah kasus yang melibatkan salah satu pihak perusahaan yang melakukan transaksi dengan yayasan ACT senilai Rp30 miliar.

Baca juga: Izin Pengumpulan Donasi ACT Dicabut Kemensos, ACT Bengkulu Berharap Izin PUB Dikeluarkan Kembali

Ternyata pemilik perusahaan tersebut juga adalah salah satu pendiri lembaga tersebut.

"Kami menemukan ada transaksi lebih dari dua tahun senilai Rp30 miliar yang ternyata transaksi itu berputar antara pemilik perusahaan yang notabene juga salah satu pendiri yayasan ACT," terangnya.

Dengan melakukan pembekuan atas 60 rekening yang berafiliasi dengan Yayasan ACT mulai hari ini.

"Kami putuskan untuk menghentikan sementara transaksi atas 60 rekening atas nama yayasan ACT di 33 penyedia jasa keuangan," tegas Ivan.

Yayasan ACT melakukan transaksi dengan lembaga luar negeri atau entitas asing dengan angka tersebut terbilang fantastis.

Berdasarkan data yang ada, PPATK temukan lebih dari 2.000 kali transaksi yang dilakukan ACT dengan pihak-pihak asing di luar negeri.

Bahkan, nominalnya mencapai Rp64 miliar.

"Kegiatan entitas yayasan ini juga bertransaksi dengan 10 negara yang paling besar menerima dan mengirim ke yayasan tersebut berdasarkan laporan 2014-2022," pungkasnya.

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved