Hari Pertama Menginap di Rutan Bengkulu, Begini Kondisi Sekda Bengkulu Tengah

Hari pertama Sekda Bengkulu Tengah Edi Hermansyah menginap di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Bengkulu mengalami 'shock'.

Penulis: Suryadi Jaya | Editor: Yunike Karolina
Suryadi Jaya/TribunBengkulu.com
Kepala Rutan kelas IIB Bengkulu, Farizal Anthony (tengah) menjelaskan kondisi hari pertama Sekda Bengkulu Tengah saat masuk ke Rutan Bengkulu, Kamis (7/7/2022). 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Suryadi Jaya

TRIBUNBENGKULU.COM, KOTA BENGKULU - Hari pertama Sekda Bengkulu Tengah Edi Hermansyah menginap di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Bengkulu mengalami 'shock'.

"Shock yang dialami tahanan titipan dari Kejaksaan Negeri Bengkulu Tengah EH, mungkin karena kaget. Sebab EH (Sekda Bengkulu Tengah) ditahan oleh pihak kejaksaan saat masih berdinas pada kemarin (6/7/2022)," ujar Kepala Rutan Kelas IIB Bengkulu, Farizal Anthony, Kamis (7/7/2022).

Sekda Bengkulu Tengah Edi Hermansyah saat ini ditempatkan di ruang isolasi dan terpisah dengan warga binaan rutan sebab masih dalam kondisi pandemi.

"Karena aturan dari pusat, terkait kondisi covid-19 ini jadi harus di isolasi terlebih dahulu, kalau aturannya akan tetap di ruang isolasi selama 14 hari.

"Tapi melihat Kota Bengkulu kasus covid-19 sangat menurun, bisa saja lebih cepat. Sebelumnya juga mereka yang ditahan sudah dites PCR Covid-19 dan hasilnya negatif," jelas Farizal.

Meski menjadi tahanan titipan, Edi Hermansyah bisa saja menerima kunjungan. Namun harus mendapat persetujuan kejaksaan dan disesuaikan dengan jam kunjungan yang sudah diatur Rutan Bengkulu.

Usai ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi anggaran penyusunan RDTR di Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng) senilai Rp 311 juta, Sekda Bengkulu Tengah (Benteng) ditahan di Rutan kelas IIB Bengkulu, Rabu (7/7/2022).

Ikut ditahan tersangka lainnya Doni Ramadhan ASN yang saat kegiatan penyusunan RDTR bertindak sebagai Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Bappeda Bengkulu Tengah, dan Direktur PT BPI selaku rekanan.

Berdasarkan audit dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), ketiga tersangka telah merugikan keuangan negara sebesar Rp 272.238.720.

Untuk diketahui, pada tahun 2013 Bappeda Bengkulu Tengah menganggarkan Kegiatan Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan Perbatasan Kabupaten Bengkulu Tengah dengan Kota Bengkulu senilai Rp. 311.940.200.

Pengerjaan dengan masa kerja selama 120 hari itu pun dilaksanakan oleh PT. BPI selaku pihak ketiga.

PT BPI yang dinyatakan sebagai pemenang tender ternyata tidak mengerjakan secara mandiri namun dikerjakan oleh tenaga ahli yang seolah-olah sebagai tenaga ahli PT BPI.

Proyek yang dikerjakan tersebut dinilai tidak memenuhi persyaratan dan belum dapat diterima sehingga seharusnya belum bisa dibayarkan oleh Bappeda Bengkulu Tengah kepada PT BPI selaku pihak ketiga.

Akibat perbuatan ketiga tersangka itu, RDTR Kawasan Perbatasan Kabupaten Bengkulu Tengah dengan Kota Bengkulu Tahun Anggaran 2013 tidak dapat digunakan dalam penyusunan Peraturan Daerah (Perda).

Baca juga: Di Mana Beli MinyaKita di Bengkulu? Ini Penjelasan Dinas Perindag soal Minyak Goreng Rp 14 Ribu

Baca juga: Peringatan Dini BMKG: Waspada Gelombang Tinggi Capai 4 Meter di Perairan Enggano Bengkulu

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved