Catatan Redaksi

Pemain Sawit Wajib Tahu! Asal Muasal Harga CPO Sawit Diatur Malaysia, Sekarang Karena Malaysia Juga?

Pada arikel ini kita akan membahas tentang sengkrawut harga sawit. Dan, apakah harga TBS yang cuma Rp 250 rupihan per kilogram di petani saat ini

Editor: prawira maulana
Romi Juniandra/Tribunbengkulu.com
Tanda buah segar sawit usai dipanen petani, harga TBS sawit anjlok sementara harga pupuk terus melambung naik. Apakah benar harga sawit diatur Malaysia? 

TRIBUNBENGKULU.COM - Pada arikel ini kita akan membahas tentang sengkrawut harga sawit. Dan, apakah harga TBS yang cuma Rp 250 rupihan per kilogram di petani saat ini ada hubungannya dengan malaysia? Lanjutkan membaca sampai habis.

Menteri Luhut Binsar Panjaitan sempat mengungkapkan kegeramannya tentang harga CPO Kelapa Sawit yang diatur oleh Malaysia. Padahal Indonesia saat ini adalah penghasil sawit terbesar di Dunia. 

Kegeramannya ini diungkapkan saat kondisi sawit indonesia dengan harga TBS yang berada di titik nadir paling rendah hingga lebih murah dari permen kojek kata seorang petani di bangka belitung. 

Kenapa diatur Malaysia? Jadi ceritanya begini. 

Dikutip dari Kompas.com, seperti diketahui, Indonesia sudah menjadi produsen minyak sawit nomor satu di dunia sejak 2006, menyalip posisi yang selama bertahun-tahun sudah ditempati Malaysia. Produksi sawit Indonesia mencapai 43,5 juta ton dengan pertumbuhan rata-rata 3,61 persen per tahun. Hal ini membuat CPO jadi penyumbang devisa ekspor terbesar bagi Indonesia. 

Baca juga: Derita Petani Sawit, Harga TBS Sawit Anjlok Tapi Harga Pupuk Melambung, Terpaksa Kebun Tak Dipupuk

Beberapa orang terkaya di Indonesia juga berasal dari pengusaha kelapa sawit. Selain pengusaha domestik, kepemilikan perkebunan kelapa sawit besar di Indonesia didominasi oleh investor asal Singapura dan Malaysia. Sejatinya, perusahaan-perusahaan produsen minyak goreng besar menggarap perkebunan kelapa sawitnya di atas tanah negara yang diberikan pemerintah melalui skema pemberian hak guna usaha (HGU).

Sebagian HGU bahkan berada di atas lahan pelepasan hutan. Harga CPO ditentukan dari Malaysia Namun meski menjadi penguasa minyak sawit secara global, naik turunnya harga komodits sawit dikendalikan oleh bursa di Negeri Jiran yakni Bursa Malaysia Derivatives (BMD). Selain berpatokan pada BMD, harga minyak sawit yang dijual di Indonesia juga mengacu pada bursa komoditas yang berada di Rotterdam, Belanda. 

Harga panenan perkebunan kelapa sawit di Indonesia ditetapkan melalui kontrak berjangka CPO di BMD. Besarnya pengaruh BMD dalam penetapan harga sawit global cukup beralasan mengingat Malaysia sebelumnya merupakan negara penghasil CPO terbesar dunia. Posisi BMD sebagai salah satu penentu harga sawit global tak tergeser meskipun Indonesia belakangan jadi penghasil CPO terbesar di dunia. 

Selain itu, banyak perkebunan kelapa sawit di Indonesia juga sejatinya dimiliki oleh perusahaan asal Malaysia dan Singapura.  Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat investasi asing atau penanaman modal asing (PMA) di sektor pertanian pada periode 2015-Maret 2021 masih didominasi investasi perkebunan sawit. Realisasi PMA sektor pertanian yang didominasi perkebunan kelapa sawit pada periode 2015 - Maret 2021 mencapai 9,5 miliar dolar AS atau berkontribusi sekitar 5,2 persen dari terhadap total PMA di Indonesia. Lebih rinci lagi, investasi asing di Tanah Air tersebut berasal dari Singapura (53,7 persen) dan Malaysia (15,8 persen). 

Lalu apakaha harga dibawah permen kojek saat ini ada hubungannya dengan Malaysia. Masa iya?

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved