Dampak Pasokan TBS Sawit Menurun, Pembongkar TBS Sawit di Pabrik Tak Kebagian Mobil

Pasokan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit dalam beberapa hari terakhir mengalami penurunan yang signifikan. Hal tersebut juga berdampak

Penulis: Suryadi Jaya | Editor: M Arif Hidayat
Suryadi Jaya/TribunBengkulu.com
Ramin (47) salah satu pembongkar TBS sawit di Kabupaten Bengkulu Tengah, dikatakannya akibat pasokan TBS Sawit menurun dia dan rekan-rekannya pembongkar TBS sawit tak kebagian mobil 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Suryadi Jaya

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU TENGAH - Pasokan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit dalam beberapa hari terakhir mengalami penurunan yang signifikan. 


Hal tersebut juga berdampak pada para pekerja yang bertugas melakukan pembongkaran TBS sawit di pabrik kelapa sawit (PKS). 


Para pekerja yang tergabung dalam Serikat Pekerja Transport Indonesia (SPTI) ini dalam beberapa hari terakhir sering tidak kebagian mobil yang akan dibongkar. 

Baca juga: Gubernur Bengkulu Perbolehkan Truk Sawit Antre Solar Bersubsidi Meskipun SE Kementrian ESDM Melarang

Baca juga: Pabrik Sawit di Bengkulu Tengah Masih Sepi Pengunjung, Harga TBS Sawit Tertinggi Rp 1.050 per Kg

Ramin (47) salah satu pekerja SPTI di Kabupaten Bengkulu Tengah ini mengaku penurunan pasokan TBS sawit sangat berdampak kepada penghasilannya sehari-hari. 


"Saya kalau tidak bongkar sawit, ya kerja serabutan saja, kalau kondisi PKS sepi seperti ini sering sekali kami tidak kebagian mobil, sedangkan kebutuhan sehari-hari semakin meningkat," ungkap RaminRamin kepada TribunBengkulu.com, Kamis (14/7/2022). 


Saat kondisi pasokan TBS sawit di PKS mengalami peningkatan, Ramin mengaku bisa membongkar mobil truk pengangkut TBS sawit sebanyak empat mobil. 


"Kalau ramai, bisa kita dapat sampai empat mobil, satu mobil truk itu rata-rata kami mendapatkan upah sebesar Rp 65 ribu, tapi kalau sepi tidak dapat sama sekali," ujarnya. 


Pembongkaran pun tidak bisa dilakukan setiap hari, sebab sudah terjadwal karena banyaknya masyarakat yang tergabung dalam SPTI ini. 


"Kita bisa bongkar sawit ini dua hari satu kali, karena kita dibagi dalam dua shif dan bergantian setiap harinya," ujar Ramin. 


Tidak hanya itu, dirinya yang memiliki enam anak ini pun harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari. 


"Kalau tidak bongkar, saya kerja bantu orang di tempat usaha kayu, biasanya dapat upah Rp 100 ribu per hari," kata Ramin. 

  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved