Penduduk Miskin di Bengkulu Bertambah

Penduduk Miskin Bengkulu Bertambah 5,4 Ribu: Sawit Kini Anjlok, Apa Bakal Tambah Besar?

Harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit di Provinsi Bengkulu saat ini ternyata memang memiliki dampak terhadap penduduk miskin.

Penulis: Beta Misutra | Editor: Hendrik Budiman
Tangkapan Layar
Kepala BPS Provinsi Bengkulu Ir. Win Rizal saat Rilis BRS BPS Bengkulu, Jumat (15/7/2022). Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu mencatat bahwa jumlah penduduk miskin di 'Bumi Rafflesia" mengalami penambahan sebesar 5,4 ribu orang. 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Beta Misutra

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - BPS Provinsi Bengkulu mencatat jumlah penduduk miskin di Bengkulu bertambah 5.400 ribu orang apakah dipengaruhi anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit di Provinsi Bengkulu.

Harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit di Provinsi Bengkulu saat ini ternyata memang memiliki dampak terhadap penduduk miskin.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu, Win Rizal mengatakan, jatuhnya harga TBS sawit tidak hanya berpengaruh pada pemilik kebun saja.

Namun juga berpengaruh kepada pekerja lain seperti penduduk yang bekerja sebagai pembersih kebun sawit dan masyarakat yang berprofesi sebagai pemanen sawit.

Baca juga: Penduduk Miskin Bengkulu Bertambah 5,4 Ribu Orang, Komoditi Makanan Pengaruhi Kemiskinan di Bengkulu

Apalagi dari pengamatan BPS Provinsi Bengkulu, kebanyakan pelaku kegiatan di kebun sawit merupakan penduduk yang masuk dalam kategori pekerja keluarga.

Pekerja keluarga ini dalam data BPS termasuk kedalam golongan penduduk berpenghasilan rendah atau penduduk miskin.

Karena ada indikasi dengan jatuhnya harga sawit ini, saat ini bahkan sudah ada beberapa pemilik kebun sawit yang memilih untuk melakukan pembiaran.

Dengan anjloknya harga TBS sawit ini, akan berdampak pada petani dari sisi keuntungan dan kerugian.

Baca juga: Sayembara Sawit di Bengkulu, Siapa Bisa Menaikan Harga Sawit Dapat 1 Hektare Kebun Sawit Plus Uang

Sedangkan terhadap pekerja jika tidak ada pekerjaan akibat adanya pembiaran oleh pemilik kebun sawit, tentu mereka akan kehilangan pekerjaan.

"Kalau pemilik lahan mungkin masih bisa usaha lain," ungkap Win Rizal.

Dengan adanya pembiaran seperti ini, diyakini akan berdampak pada mata pencaharian masyarakat yang bekerja sebagai pembabat, pembersih ataupun pemetik buah sawit.

"Jika hal ini terjadi berlarut-larut, saya yakin bahwa akan ada pengaruh, mudah-mudahan saja tidak sampai berpengaruh terhadap peningkatan jumlah penduduk miskin di Provinsi Bengkulu," kata Win Rizal.

Sementara itu pada saat harga TBS sawit sedang tinggi, justru malah tidak ada pengaruhnya terhadap angka kemiskinan.

Halaman
123
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved