Penduduk Miskin di Bengkulu Bertambah

Penduduk Miskin Bengkulu Bertambah 5,4 Ribu: Sawit Kini Anjlok, Apa Bakal Tambah Besar?

Harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit di Provinsi Bengkulu saat ini ternyata memang memiliki dampak terhadap penduduk miskin.

Penulis: Beta Misutra | Editor: Hendrik Budiman
Tangkapan Layar
Kepala BPS Provinsi Bengkulu Ir. Win Rizal saat Rilis BRS BPS Bengkulu, Jumat (15/7/2022). Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu mencatat bahwa jumlah penduduk miskin di 'Bumi Rafflesia" mengalami penambahan sebesar 5,4 ribu orang. 

Karena yang menikmati hanyalah pemilik lahan perkebunan atau perusahaan saja.

Sedangkan untuk pekerja yang tergolong dalam pekerja keluarga tidak menikmati kenaikan harga tersebut, padahal lebih dari 60 persen masyarakat yang menggantungkan hidup dari TBS sawit adalah pekerja keluarga.

"Artinya kenaikan sawit berapapun kan nggak menikmati, sedangkan yang menikmati adalah yang punya kebun, perusahaan dan sebagainya," ujarnya.

BPS Catat Kenaikan Penduduk Miskin

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu mencatat bahwa jumlah penduduk miskin di 'Bumi Rafflesia" mengalami penambahan sebesar 5.400 orang.

Pada bulan Maret 2022, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan di Provinsi Bengkulu mencapai 297,23 ribu orang (14,62 persen) atau bertambah dibandingkan September 2021 yang sebesar 291,79 ribu orang.

Kepala BPS Bengkulu Ir. Win Rizal mengatakan,persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2021 sebesar14,73 persen naik menjadi 14,88 persen pada Maret 2022.

Presentase Tingkat Kemiskinan, Maret 2015–Maret 2022
Presentase Tingkat Kemiskinan, Maret 2015–Maret 2022 (HO BPS)

"Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada September 2021 sebesar 14,28 persen naik menjadi 14,49 persen pada Maret 2022," kata Win Rizal dalam keterangan resminya, Jumat (15/7/2022).

Selama periode September 2021–Maret 2022, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan naik sebanyak 1,9 ribu orang.

Dari sebelumnya, 98,83 ribu orang pada September 2021 menjadi 100,69 ribu orang pada Maret 2022.

Begitu juga di daerah perdesaan, bertambah sebanyak 3,6 ribu orang dari 192,97 ribu orang pada September 2021 menjadi 196,54 ribu orang pada Maret 2022.

Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan.

Makanan terhadap Garis Kemiskinan pada Maret 2022 tercatat sebesar 73,70
persen.

Kondisi ini mengalami penurunan jika dibanding kondisi September 2021
yaitu sebesar 73,94 persen.

Halaman
123
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved