Lingkar Inisiatif Indonesia Akui Sempat Takut Dekati Para Pemburu Harimau Sumatera Agar Bertobat

Pertama kali mereka mencoba berkomunikasi dengan salah satu pemburu senior di daerah Musirawas Sumatera Selatan.

Penulis: Suryadi Jaya | Editor: Hendrik Budiman
Suryadi Jaya/TribunBengkulu.com
Deklarasi stop perburuan dan menyatakan komitmen menjaga populasi habitat Harimau Sumatera yang diikuti para mantan pemburu harimau sebanyak 15 orang, Rabu (20/7/2022). 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Suryadi Jaya

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lingkar Inisiatif Indonesia yang berfokus pada penyelamatan Harimau Sumatera akui sempat takut dekati para pemburu Harimau Sumatera.

Dalam pengabdian penyelamatan Harimau Sumatera dari kepunahan, Lingkar Inisiatif Indonesia melakukan pendekatan kepada para pemburu Harimau agar mereka bisa berhenti dan bisa ikut menjaga populasi harimau.

Berawal tahun 2018, Tim yang dipimpin Iswandi mulai membuka komunikasi dengan para pemburu hewan dengan nama latin Panthera Tigris Sumatrae.

Baca juga: 15 Mantan Pemburu Harimau Deklarasikan Stop Perburuan dan Ikut Jaga Habitat Harimau Sumatera

Pertama kali mereka mencoba berkomunikasi dengan salah satu pemburu senior di daerah Musirawas Sumatera Selatan.

"Kita pertama kali bertemu dengan pemburu yaitu dengan Datuk Mawi yang merupakan pemburu harimau sejak 1972 dan telah memburu ratusan ekor harimau," kata salah satu anggota Lingkar Inisiatif Indonesia Hary Siswoyo.

Saat pertama bertemu dan membuka komunikasi dengan Datuk Mawi, Hary dan tim mengakui sempat khawatir dan sedikit merasa takut akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

"Siapa yang tidak takut, Datuk Mawi ini bisa dibilang legend. Karena dia sudah memburu harimau saat harga kulit harimau masih Rp 30 ribu per lembar," ungkap Hary.

Namun, kekhawatiran itu pun hilang dengan sikap Datuk Mawi yang ramah dan terbuka dengan tim dari Lingkar Inisiatif Indonesia.

Baca juga: 2 Ekor Harimau Berkeliaran di Perkebunan Warga Lolo Gedang Kerinci, Warga Diimbau Berhati-hati

"Akhirnya dengan pendekatan personal secara rutin, ikut menginap di pondok kebunnya, sembari kita ajak untuk berhenti melakukan perburuan harimau, akhirnya Datuk Mawi mau berkomitmen untuk berhenti memburu harimau," ungkap Hary.

Pendekatan secara norma dan agama seperti yang telah dilakukan Lingkar Inisiatif Indonesia dinilai lebih efektif jika dibandingkan dengan sistem penegakkan hukum.

"Jika pendekatannya secara hukum, setelah dihukum para pemburu ini nantinya akan memburu kembali, sehingga rantai ini tidak akan pernah selesai," kata Hary.

Jika dalam setahun pemburu bisa menjerat 3 ekor harimau, maka jika bisa mengajak 20 orang pemburu artinya dalam satu tahun 60 ekor Harimau Sumatera berhasil diselamatkan.

Setelah empat tahun bergelut dalam kegiatan ini, akhirnya terdapat 20 mantan pemburu yang siap mendeklarasikan untuk berhenti berburu harimau.

Baca juga: Harimau Sumatera Mangsa 6 Ekor Hewan Ternak Warga, BKSDA Bengkulu: Mulai Menjauhi Permukiman

Bahkan, mereka ikut aktif dalam menyelamatkan populasi Harimau Sumatera namun hanya 15 orang yang bisa hadir di lokasi deklarasi.

"Beruntung pertama kita bisa mengajak Datuk Mawi, karena para pemburu yang baru masih cukup mendengar ajakan dari Datuk Mawi untuk berhenti berburu. Sehingga akhirnya ada 20 mantan pemburu yang telah komitmen," jelasnya.

Dengan dilakukannya deklarasi penyelamatan Harimau Sumatera di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) bisa menjaga populasi harimau yang berada diambang kepunahan.

"Target kita dengan pendekatan kepada para pemburu harimau ini terus dilakukan, dalam 2-3 tahun kedepan populasi harimau bisa meningkat," pungkasnya.

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved