Abu Jangkos Pupuk Alternatif Bagi Perkebunan Kelapa Sawit, Disaat Harga Pupuk Kimia Melonjak

Salah satu produk sampingan dari pabrik kelapa sawit yakni abu hasil pembakaran janjang kosong (jangkos) sawit yang sangat bermanfaat bagi pohon kelap

Penulis: Suryadi Jaya | Editor: M Arif Hidayat
Suryadi Jaya/Tribunbengkulu.com
Para pekerja saat mempacking abu jangkos ke dalam karung untuk siap dikirimkan ke para pelanggan, Sabtu (23/7/2022). Abu Jangkos ini sebagai pupuk alternatif untuk perkebunan kelapa sawit 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Suryadi Jaya


TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU TENGAH - Salah satu produk sampingan dari pabrik kelapa sawit yakni abu hasil pembakaran janjang kosong (jangkos) sawit yang sangat bermanfaat bagi pohon kelapa sawit. 


Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan didapati bahwa abu jangkos mengandung unsur kalium yang berlimpah dengan pH 12 sehingga sangat cocok bagi perkebunan kelapa sawit yang berada di area gambut. 


Saat ini, banyak para petani yang mulai beralih menggunakan abu jangkos ini sebagai pupuk pengganti karena pupuk sintetis atau sering disebut pupuk kimia harganya melonjak drastis hingga menyentuh harga Rp 20 ribu per kilogram. 


"Pupuk abu jangkos ini sebenarnya sudah lama digunakan oleh para petani karena kualitasnya tak kalah bagus dibandingkan pupuk biasa, namun khusus petani Bengkulu belum terlalu familiar," ujar Beni salah satu penjual pupuk abu jangkos di Bengkulu Tengah


Ditengah harga pupuk kimia yang menyentuh harga Rp 20 ribu per kilogram, pupuk abu jangkos sangat dilirik oleh para petani karena harganya yang rendah yang berkisar antara Rp 1.400 hingga Rp 2.000 per kilogram. 


"Pelanggan kita ini kebanyakan berasal dari daerah perkebunan di lahan gambut, yakni Sumatera Selatan dan Riau," kata Beni. 


Terkait cara penggunaan pupuk abu jangkos di lahan perkebunan kelapa sawit, hampir sama dengan penggunaan pupuk kimia biasa dengan cara dilakukan penaburan. 


"Sama-sama ditabur di dekat pohon kelapa sawit, hanya saja jumlah yang digunakan lebih banyak dari pada jumlah pupuk biasa agar mendapatkan hasil yang optimal," ungkapnya. 

 

  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved