Harga Pupuk Kimia Mahal, Petani di Bengkulu Dianjurkan Beralih ke Pupuk Organik

Sejak awal 2022 ini, para petani dikeluhkan dengan harga pupuk non subsidi dan pestisida yang mahal karena terus-terusan naik.

Penulis: Jiafni Rismawarni | Editor: Yunike Karolina
Jiafni Rismawarni/TribunBengkulu.com
Salah satu toko pertanian di Kota Bengkulu mulai sepi pembeli semenjak harga pupuk dan pestisida mahal karena terus-terusan naik. Sebaliknya saat ini harga sawit anjlok. 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Jiafni Rismawarni

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Sejak awal 2022 ini, para petani dikeluhkan dengan harga pupuk non subsidi dan pestisida yang mahal karena terus-terusan naik.

Iwan, pemilik toko pertanian di Kelurahan Semarang, Kota Bengkulu menjelaskan, kenaikan harga pupuk maupun pestisida, mulai terjadi sekitar enam bulan lalu. Dan kini berdampak, pada jumlah pembelian di tokonya menurun drastis. 

"Harga pupuk ini naik, ya pembelinya turun. Dak do (tidak ada, red) yang laku, orang juga dak berani turun ke sawah gara-gara harga pupuk naik. Pestisida juga naik, " kata Iwan. 

Hal inilah, yang menyebabkan sebagian para petani urung turun ke sawah untuk bertanam.

Pasalnya, modal yang dikeluarkan petani lebih besar bila mengikuti harga pupuk dan pestisida yang naik ini. 

"Harga naik, hampir separuhnya tu. Misalnya, urea dulu Rp 228 ribu, kini bisa Rp 600 ribu sekarung nya. Kalau pestisida dulu seliter Rp 50 ribu, kini bisa Rp 150 ribu," jelasnya. 

Melihat fenomena ini, Anggota Komisi II DPRD Provinsi Bengkulu, Sujono menyarankan agar para petani mulai beralih ke pupuk organik.

Baca juga: Hanya Manfaatkan Kotoran Ternak, Penyuluh di Bengkulu Selatan Ini Bisa Hasilkan Cuan Banyak

Selain, karena lebih ramah lingkungan. Pupuk jenis ini juga melimpah. Stoknya lebih banyak bila dibandingkan dengan pupuk kimia. 

"Memang untuk pupuk non subsidi itu, harganya melambung terus. Kalau pupuk subsidi itu pun, kuota untuk provinsi Bengkulu mengalami penurunan, SP36, poska, ada juga yang jumlah nya bertambah, itu di pupuk organik," ujar Sujono. 

Sujono menjelaskan dari hasil koordinasi dengan kementerian, yang menjadi kendala harga pupuk terus-terusan naik karena bahan baku pupuk kimia ini banyak impor dari Rusia.

"Dan saat ini kondisi di Rusia sedang bergolak, jadi impor nya susah, dan berdampak ke harga nya naik," beber Sujono. 

Untuk itu, ia berharap kepada para petani untuk beralih, dari pupuk kimia ke pupuk organik.

Mengingat harga pupuk organik lebih murah dibandingkan pupuk kimia. Serta stok dan jumlah pupuk subsidi, jenis organik lebih banyak.

" Juga pupuk organik juga lebih ramah lingkungan. Untuk keberlanjutan kesuburan tanah, lebih baik menggunakan pupuk organik," ungkap Sujono. 

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved