Kisah Perempuan Bengkulu Penyitas TBC, Berbulan-bulan Lawan Tuberkulosis

Ani Zaioka Putri, salah seorang penyitas tuberkulosis (TBC) di Bengkulu. Tuberkulosis (TBC) salah satu penyakit yang menyebabkan kematian tertinggi.

Penulis: Jiafni Rismawarni | Editor: Yunike Karolina
Ho/TribunBengkulu.com
Ani saat membagikan kisahnya melawan TBC, di peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS)  yang digelar oleh PKBI Bengkulu.  

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Jiafni Rismawarni

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Ani Zaioka Putri, salah seorang penyitas tuberkulosis (TBC) di Bengkulu.

Tuberkulosis (TBC) termasuk dalam salah satu penyakit yang menyebabkan kematian tertinggi di dunia.

Dan setiap hari, lebih dari 4.100 orang kehilangan nyawa mereka karena tuberkulosis (TBC) dan hampir 28.000 orang jatuh sakit.

Namun, penyakit ini mampu dikalahkan oleh Ani, yang berjuang berbulan-bulan untuk lepas dari kekangan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis itu. 

"Awal mula saya kena sakit TB ini di tahun 2021. Sekitar Maret- April saya sudah batuk-batuk terus, tenggorokan saya gatal juga, " kata Ani, Minggu (31/7/2022). 

Dengan gejala itu, awalnya Ani mengira hanya sakit biasa. Namun, seiring berjalannya waktu ,lambat laun batuk yang dialami Ani semakin parah. Ditambah saat itu, Ani juga mudah sakit kepala. 

"Sakit kepala, mual, pusing, mudah capek pokoknya. Dan juga hampir setiap malam saya meriang, saat malam saya selalu berkeringat, " ungkap Ani. 

Gejala tersebut, dialami Ani, mulai dari bulan Maret hingga Oktober. Kemudian, pada November gejalanya pun tak kunjung reda.

Hingga orang tua Ani, merasa sakit yang dialami putrinya ini sangat ganjal. Berbeda dengan batuk, flu biasa. Hingga akhirnya, ia diajak periksa ke RSUD M. Yunus. 

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved