Jaksa Masuk Sekolah, Kejati Bengkulu Ingatkan Pelajar Hindari Konten Negatif di Media Sosial

Kasi Penkum Kejati Bengkulu, Ristianti Andriani mengingatkan para pelajar untuk waspada dan bijak di media sosial (medsos).

Penulis: Romi Juniandra | Editor: M Arif Hidayat
Romi Juniandra/Tribunbengkulu.com
Kasi Penkum Kejati Bengkulu, Ristianti Andriani saat menyampaikan sosialisasi pada acara Jaksa Masuk Sekolah (JMS) Kejati Bengkulu di SMKN 3 Kota Bengkulu, Kamis (1182022) 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Romi Juniandra


TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Kasi Penkum Kejati Bengkulu, Ristianti Andriani mengingatkan para pelajar untuk waspada dan bijak di media sosial (medsos).


Salah satunya adalah menghindari konten-konten negatif seperti pornografi atau kekerasan seksual.


Hal itu disampaikan Ristianti saat melakukan kegiatan Jaksa Masuk Sekolah (JMS) di SMKN 3 Kota Bengkulu, Kamis (11/8/2022).


"Para remaja yang masih pelajar harus cerdas memilah dan memilih serta bijak menggunakan medsos, jadikan medsos untuk mencari pengetahuan yang positif," kata Ristianti kepada TribunBengkulu.com.


Selain itu, dalam JMS kali ini, Kejati Bengkulu juga memberikan penyuluhan hukum kepada para siswa SMKN 3 Kota Bengkulu, dengan tema tema perlindungan anak. 


Selain Kasi Penkum Ristianti Andriani, juga hadir beberapa Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Bengkulu yang sering menangani kasus, seperti Yordan, Gustina Utami, Ira Karina. 


Salah satu yang jadi perhatian adalah banyaknya remaja dan anak-anak saat ini yang menjadi korban dan bahkan pelaku kekerasan seksual. Pemicu hal ini disebutkan karena kurangnya pemahaman hukum di kalangan remaja.


"Kita berharap apa yang kita sampaikan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan lingkungan sekitar. Ketika itu diterapkan dengan baik mudah-mudahan hal-hal negatif tidak akan terjadi," kata Ristianti.


Selain memberikan penyuluhan tentang bijak dalam medsos dan kekerasan seksual, JMS kali ini juga memberikan penyuluhan tentang kenakalan remaja lainnya, seperti penyalahgunaan narkoba dan kecanduan judi online.


Untuk diketahui, Pengadilan Negeri (PN) Bengkulu hingga akhir pertengahan Juli 2022 ini telah menangani 16 kasus asusila.


Termasuk, 14 kasus diantaranya korban merupakan anak-anak, dan pelakunya adalah dewasa.


Ketua PN Bengkulu, Jon Sarman Saragih mengatakan 2 kasus asusila murni tersebut ditangani dengan KUHP.


"Hukuman yang dijatuhkan antara 3 sampai 5 tahun," kata Jon Sarman kepada TribunBengkulu.com.


Kemudian, 14 kasus lainnya yang korbannya anak-anak, ditangani dengan Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 2022 Tentang Perlindungan anak, dan UU Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.


"Contohnya korbannya anak dibawah umur, pelakunya dewasa. Hukuman yang dijatuhkan antara 3 sampai 15 tahun," ujar dia.

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved