Gempa Bengkulu

Gempa Bengkulu 6,3 SR Tak Timbulkan Kerusakan Fatal, Ini Penjelasan Pakar Geoteknik Kegempaan Unib

Provinsi Bengkulu merupakan daerah rawan gempa. Bahkan Selasa malam (23/8/2022) pukul 21.31 WIB, Bumi Raflesia diguncang gempa berkekuatan 6,3 SR.

Penulis: Jiafni Rismawarni | Editor: Yunike Karolina
Jiafni Rismawarni/TribunBengkulu.com
Pakar Geoteknik Kegempaan, Lindung Zalbuin Mase. Dosen Unib ini menjelaskan fenomena gempa bumi di Bengkulu, dan kenapa gempa Bengkulu berkekuatan 6,3 SR tidak menimbulkan kerusakan fatal. 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Jiafni Rismawarni

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Provinsi Bengkulu merupakan daerah rawan gempa. Bahkan Selasa malam (23/8/2022) pukul 21.31 WIB, Bumi Raflesia diguncang gempa berkekuatan magnitudo 6,3 Skala Richter (SR).

Meskipun bermagnitudo di atas 6 skala richter namun kerusakan yang ditimbulkan tidak termasuk berat atau parah. BPBD Provinsi Bengkulu mencatat Rabu siang (24/8/2022), tidak ada korban jiwa dari peristiwa gempa Bengkulu Selasa malam (23/8/2022). Kerugian materil pun Rp 25 juta.

Lalu kenapa gempa Bengkulu berkekuatan 6,3 SR pada Selasa malam (23/8/2022), tidak menimbulkan kerusakan parah atau fatal? Termasuk di wilayah Kabupaten Kaur yang menjadi pusat gempa.

Pakar Geoteknik Kegempaan Universitas Bengkulu (Unib), Ir. Lindung Zalbuin Mase, S.T., M.Eng., Ph.D. menerangkan, hakikatnya Provinsi Bengkulu bisa disebut rawan terhadap gempa. Hal ini karena  sumber sumber gempa itu ada di Bengkulu.

"Seperti zona subduksi, yaitu zona tumbukan dua buah lempeng aktif, yang ada di Indonesia. Lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Ada patahan tektonik yaitu patahan sesar Sumatera yang juga melintasi provinsi Bengkulu," kata Lindung, Rabu (24/8/2022).

Selain itu, Bengkulu juga memiliki sumber sumber gunung api, yang ada di Bukit Kaba dan Rejang Lebong.

Sehingga gempa yang terjadi pada malam tadi, adalah gempa dari skenario tumpukan Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia tepatnya di zona Megathrust.

Bila memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat aktivitas subduksi.

Juga dari hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault).

"Yang kita rasakan juga cukup besar 6,3 m dan lama durasinya. Memang tipikal gempa seperti itu," ujar Lindung.

Bila ditanyakan dampak gempa pada bangunan, kata Lindung, memang belum ada kerusakan bangunan fatal  yang dilaporkan. Namun secara umum ini sudah memberikan stocking efect atau efek kejut kepada bangunan.

Hal ini juga diperkuat, dengan  pemerintah daerah yang sudah merancang bangunan dengan mengacu kepada standar yang ada. Sehingga, dengan gempa bumi berkekuatan 6,3 M juga masih kokoh, meskipun ada efek retakan.

"Namun struktur dari bangunan ini, ada keretakan keretakan yang masih dalam batas toleransi, " jelasnya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved