SPSI Bengkulu: Harga BBM Naik, Pekerja Menjerit karena Picu Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok

SPSI) Provinsi Bengkulu menyesalkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) naik yang resmi ditetapkan Sabtu (4/9/2022), oleh pemerintah pusat.

Penulis: Jiafni Rismawarni | Editor: Yunike Karolina
Jiafni Rismawarini/TribunBengkulu.com
Antrean BBM di salah satu SPBU Kota Bengkulu. Mulai kemarin, Sabtu (4/9/2022) harga BBM naik. Kebijakan pemerintah ini disesalkan SPSI Bengkulu. 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Jiafni Rismawarni

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Provinsi Bengkulu menyesalkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) naik yang resmi ditetapkan Sabtu (3/9/2022) oleh pemerintah pusat.

Sekretaris SPSI Provinsi Bengkulu, Panca Darmawansyah menjelaskan dengan harga BBM naik, memicu kenaikan harga-harga kebutuhan pokok. Hal ini, membuat para pekerja menjerit. Pasalnya, untuk upah pekerja tidak ada kenaikan. 

"Dengan harga BBM naik ini segala macam naik. Maka biaya hidup dari para pekerja ini akan meningkat. Biasanya BBM naik itu sekitar 5-10 persen maka bahan pokok itu bisa naik sampai 30 persen, " kata Panca kepada TribunBengkulu.com, Minggu (4/9/2022). 

Dengan sehubungan kenaikan BBM ini, pihaknya selaku pengurus Serikat Pekerja, sangat menyesalkan hal ini. Karena dampaknya langsung kehidupan dan ekonomi pekerja. Apalagi saat ini, upah pekerja hanya diangka Rp. 2.238.094,031. 

"Adanya niat yang disampaikan oleh pemerintah atas kenaikan BBM ini. Maka barang barang dan bahan bahan pokok, makanan, dan segala macam juga ikut naik. Ke depan pasti berpengaruh," jelas Panca. 

Sementara UMP atau gaji, kata Panca,  baru bisa naik tahun depan. Tahun 2022,masih menyisakan 4 bulan. Artinya para pekerja harus bertahan, dan memutar otak untuk mendukung kebutuhan sehari-hari mereka. Di tengah gencaran kenaikan harga dan minimnya upah yang diterima. 

"Beberapa bulan ini maka itu timbullah kesengsaraan bagi para pekerja. Apa? Paling nggak utang, nah utang-utang ini harus di saur (bayar, red) kepada pekerja, untuk 3 -4 bulan ke depan. Sementara, kenaikan upah juga belum tentu, " ungkap Panca. 

Padahal sebelum penetapan UMP ini, SPSI Provinsi Bengkulu mengajukan keberatan dengan adanya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 36 tahun 2021 tentang Pengupahan, Mengatur Penetapan UMP, dirasa kurang sesuai dengan kondisi real pekerja ditiap daerah.

Apalagi kondisi masing-masing daerah berbeda satu sama lain. Seharusnya, untuk UMP Bengkulu bisa naik  10 persen, dari jumlah tahun sebelumnya. 

"Layak nyo Rp 2.75.000. Ini tidak berbanding antara apa yang diberikan oleh pemerintah, dan apa yang dirasakan masyarakat. Ini yang jelas dirasakan oleh pekerja," ucapnya. 

Untuk diketahui, harga Pertalite mengalami kenaikan harga sebesar Rp 2.350 yaitu dari harga semula Rp 7.650 menjadi Rp 10.000 perliter.

Untuk harga Biosolar juga naik sebesar Rp 1.650 yaitu dari harga Rp 5.150 menjadi Rp 6.800 perliter.

Tak hanya BBM bersubsidi, kenaikan harga juga dialami BBM non subsidi. Harga Pertamax naik sebesar Rp 2.200 dari harga sebelumnya Rp 13.000 menjadi Rp 15.200 perliter.

"Juga upah sekarang itu tidak berbasis daerah masing-masing. Itu sifatnya nasional, cuman membahasnya inflasi dan lain lainnya. Toh kalau naik juga tidak lebih dari 10 persen, dan tidak naik seketika," kata Panca. 

Baca juga: Prakiraan Cuaca Wilayah Bengkulu Minggu 4 September 2022: Cerah Berawan, Hujan Ringan di Wilayah Ini

  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved