Bertaruh Nyawa, Ternyata Hanya Segini Penghasilan Harian Penambang Emas Tradisional di Lebong

Sejumlah orang di Kaki Bukit Barisan, tepatnya di Desa Air Kopras hingga Desa Tambang Saweak, Kecamatan Pinang Belapis, Kabupaten Lebong masih tetap m

Panji Destama/TribunBengkulu.com
Aris (31) salah seorang penambang emas tradisional di Lebong, bersama teman-temannya mengangkut batu dari dalam lobang tambang emas, di Desa Tambang Saweak, Kecamatan Pinang Belapis, pada Sabtu (10/9/2022) 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama


TRIBUNBENGKULU.COM, LEBONG - Sejumlah orang di Kaki Bukit Barisan, tepatnya di Desa Air Kopras hingga Desa Tambang Saweak, Kecamatan Pinang Belapis, Kabupaten Lebong masih tetap memilih menjadi penambang emas tradisional, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. 


Salah seorang penambang emas Ujang (55) warga Desa Air Putih, Kecamatan Pinang Belapis, masih tetap memilih menjadi penambang emas tradisional. 


"Penghasilan kadang untuk 10 gelondongan ini kalau lagi bagus Rp 50.000 dapat, kalau lagi ngak bagus kadang hanya Rp 30.000 saja," ujarnya sembari memecahkan batu dari tambang emas tradisional, pada Sabtu (10/9/2022). 


Dirinya sudah menjadi penambang emas sejak 1979 lalu, atau sekitar 42 tahun lalu. Ia mulai ikut menjadi penambang emas tradisional sejak umurnya 13 tahun. 


Dirinya juga sempat mendapatkan hasil yang lumayan saat melakukan aktivas penambang di lobang tambang tradisional, ia mendapatkan Rp 500.000.


Saat ini ia hanya mencari batu-batu di sekitar tambang emas tradisional, dan di bawanya ke tempat gelondongan. 


"Dihancurkan dulu batunya jadi seperti tanah, nanti di masukan ke dalam gelondongan, di putar selama 24 jam lebih kurang," tuturnya. 


Usai dilakukan pemisah, nanti tanah dan ari dari dalam gelondongan akan keluar menjadi seperti lumpur, di dalam gelondongan nanti ada emas beku. 


Emas beku ini akan di panaskan selama lebih kurang 30 menit, lalu menjadi emas setengah matang dan di jual ke pengepul. 


Menurutnya berkerja sebagai penambang emas tradisional itu karena tak ada pilihan lain, ia saat ini menghidupkan satu orang istri, satu orang anak perempuan dan 2 orang cucu. 


"Kalau mau berkebun di sini mana bisa, tanahnya kuning, lahan juga tidak ada. Kalau berkebun nunggu musim baru dapat uang," tutupnya. 

  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved