Tragedi Aborsi di Kepahiang

Tiga Terdakwa Kasus Aborsi di Kepahiang Dituntut Berbeda, Kuasa Hukum Terdakwa Siapkan Pembelaan

Sidang kasus aborsi di Kepahiang akan digelar Kamis (15/9/2022) dengan agenda pembacaan pleidoi atau nota pembelaan dari kuasa hukum terdakwa.

Panji/TribunBengkulu.com
Ketiga terdakwa dihadapkan di depan Majelis Hakim, Pengadilan Negeri Kepahiang saat sidang kasus aborsi di Kepahiang dengan agenda saksi ahli forensik, pada Selasa (9/8/2022). 

Sementara itu, Kuasa Hukum terdakwa Annas dan Roy, Agil Alfiansyah mengatakan dari tuntutan jaksa itu terbilang rendah dari dakwaan. 

"Dari fakta persidangan ada beberapa unsur-unsur yang tidak terpenuhi. Kita lihat dari dakwaan itu ancaman pidananya cukup tinggi, hal ini menjadi pertanyaan juga. Jadi kami menyimpulkan Jaksa tidak yakin dengan dakwaannya sendiri," beber Agil.

"Kami juga menyakini apa yang didakwaan jaksa itu tidak benar," ucapnya saat dihubungi oleh TribunBengkulu.com, Rabu (14/9/2022). 

Lanjut, kuasa hukum akan membacakan nota pembelaan ini lebih lengkap nanti saat persidangan di gelar pada Kamis (15/9/2022) besok. 


Keterangan Ahli Forensik

Keterangan saksi ahli forensik dan kandungan yang dihadirkan oleh Tomy Novendri Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kepahiang dalam sidang kasus tragedi aborsi di Kepahiang menguatkan dakwaan.

Menurut JPU Tomy Novendri. apa yang dijelaskan oleh saksi ahli dalam sidang kasus tragedi aborsi di Kepahiang pada Selasa (9/8/2022) di Pengadilan Negeri (PN) Kepahiang, menguatkan 3 pasal dalam dakwaan jaksa, terutama soal perlindungan anak. 

"Dari forensik hasil autopsi menjelaskan sampel hati dan lambung mengandung misoprostol yang terkandung dalam cytotec, dan ada robekan pada plasenta serta plasenta terlepas dari rahim yang menyebabkan pendarahan hebat," beber JPU yang menangani kasus tragedi aborsi di Kepahiang.

Keterangan forensik ini selaras dengan keterangan saksi ahli kandungan, sudah dapat dipastikan dengan keadaan seperti itu, janin dalam rahim korban sudah dipastikan meninggal dunia. 

Obat misoprostol itu yang dikonsumsi korban ini, tidak memberikan dampak secara langsung pada orang yang mengkonsumsinya. 

Penggunaan obat itu sendiri diperbolehkan dengan catatan, adanya indikasi medis yang mengharuskan ibu hamil untuk meminum obat itu. 

Sedangkan korban sendiri tidak dalam keadaan indikasi medis yang mengharuskan dia untuk mengkonsumsi obat itu. 

"Ahli memperkuat surat dakwaan, karena janin dalam keadaan sehat, janin juga sudah memiliki detak jantung sehingga dikategorikan sebagai anak," ucapnya. 

Dakwaan Untuk Ketiga Terdakwa

Halaman
1234
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved