Ini Penyebab Gajah Sumatera Mati di Hutan Produksi Air Rami Kabupaten Mukomuko Bengkulu

BKSDA Bengkulu, telah melakukan pemeriksaan terkait penyebab matinya gajah Sumatera yang ditemukan di hutan produksi Air Rami Kabupaten Mukomuko.

Penulis: Beta Misutra | Editor: Yunike Karolina
Beta Misutra/TribunBengkulu.com
Konferensi pers yang digelar BKSDA Bengkulu terkait kematian gajah Sumatera di Mukomuko, Jumat (16/9/2022). 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Beta Misutra

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, telah melakukan pemeriksaan terkait penyebab matinya gajah Sumatera yang ditemukan di hutan produksi Air Rami Kabupaten Mukomuko beberapa waktu yang lalu.

Dari pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter hewan yang termasuk dalam tim BKSDA beberapa waktu yang lalu, disimpulkan penyebab kematian gajah Sumatera ini adalah akibat sakit.

Akan tetapi untuk penyebab sakitnya yang lebih akurat, sehingga menyebabkan gajah Sumatera tersebut mati, belum bisa dipastikan.

Karena saat tim tiba di lokasi, dari kondisi bangkai gajah Sumatera yang mati tersebut, pihak BKSDA tidak mendapatkan sampel yang cukup baik untuk dilakukan uji laboratorium.

"Dari hasil pengamatan bangkai gajah dari laporan yang dibuat dokter hewan, 1 bangkai gajah berdasarkan fisik mati akibat sakit. Tapi karena makanan atau ada sesuatu, itu tidak bisa disimpulkan," ungkap Kepala BKSDA Provinsi Bengkulu, Donald Hutasoit dalam konferensi pers yang digelar Jumat (16/09/2022).

Selain itu pada bangkai gajah Sumatera juga ditemukan adanya lubang akibat benda tajam pada kaki belakang sebelah kiri yang berpotensi menimbulkan infeksi.

Selain itu juga ditemukan adanya gigi bagian bawah yang pecah, sehingga menyebabkan gajah tersebut dipastikan mengalami gangguan makan.

"Namun kembali lagi kita tidak bisa menjelaskan gangguan makannya seperti apa," kata Donald.

Termasuk juga apakah kematian gajah Sumatera ini akibat adanya campur tangan manusia, pihak BKSDA juga tidak bisa memastikan.

Walaupun memang dari cerita yang menyebar diantara warga sekitar, ada dugaan bahwa kematian gajah akibat adanya campur tangan manusia.

"Faktanya dugaan itu banyak, namun kita tidak bisa memastikan apakah ada interaksi yang menyebabkan mereka terganggu, itu tidak bisa kita simpulkan," ujar Donald.

Sementara itu sampai dengan saat ini jumlah gajah sumatera yang ada di Provinsi Bengkulu diperkirakan lebih dari 50 ekor.

Sementara itu untuk jumlah gajah sumatera yang mati sejak tahun 2020 sampai dengan saat ini, ada sebanyak 2 ekor gajah.

Baca juga: Kembalikan Kejayaan Jeruk RGL Rejang Lebong, BPTP Bengkulu Gelar Bimtek Penerapan GAP

Baca juga: Terima Formasi PPPK 2022 1.654 Kuota, Pemkot Bengkulu Baru Siap Anggaran Rekrutmen PPPK Guru

 

  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved