Jualan Pakai Pikap, Iksan (44) Pedagang Korean Street Food di Bengkulu Raih Omset Jutaan per Hari

Korean Street Food kini bisa dijumpai di Bengkulu Salah satunya mangkal di kawasan kampus Unib.

Editor: Yunike Karolina
Rina Karlina/Magang
Penjual Korean Street Food di Bengkulu Iksan Susanto (44). Dari bisnis kulinernya ini ia bisa mendapatkan omset hingga jutaan rupiah per harinya. 

TRIBUNBENGKULU BENGKULU - Makanan kekinian Korean Street Food kini bisa dijumpai di Bengkulu. Salah satunya mangkal di kawasan kampus Universitas Bengkulu (Unib) tepatnya di depan BNI Unib Jalan WR Supratman Kelurahan Kandang Limun Kecamatan Muara Bangkahulu.

Penjual Korean Street Food ini bernama Iksan Susanto (44). Dari bisnis kulinernya ini ia bisa mendapatkan omset hingga jutaan rupiah per harinya.

Berbisnis di bidang kuliner bukan terbilang baru bagi Iksan. Ia sudah 20 tahun terjun di dunia bisnis kuliner. Lalu kenapa Iksan memilih bisnis Korean Street Food ini untuk menggantikan usaha sebelumnya?

Iksan menceritakan awal mulanya ia menekuni bisnis kuliner dengan membuka kantin di dalam kampus Unib, dan pembelinya sebatas mahasiswa saja.

Selain pembelinya terbatas dari kalangan mahasiswa, di waktu tertentu terlebih lagi saat libur kuliah kampus akan menjadi sepi hingga berbulan-bulan.

Akhirnya ia berinisiatif berdagang di luar dengan menjual berbagai jus dan minuman dengan menggunakan mobil pikap yang sudah dimodifikasi.

Melihat peluang atau kondisi pasar makanan Korea yang berbentuk street food sepertinya banyak peminatnya, ia pun memutuskan untuk membuka usaha Korean Street Food Nindia.

Di bagian samping mobil ia susun jenis-jenis aneka jajanan korean street food sedangkan bagian mobil pikap yang mengarah ke belakang tersusun aneka buah untuk jus.

"Karena di wilayah sini belum ada yang jualan jadi saya memutuskan untuk berjualan korean street food," ungkap Iksan Susanto kepada TribunBengkulu.com.

Jajanan street food yang dijual pun beragam dari harga seribuan sampai harga Rp 3 ribu. Dengan jenis street foodnya yaitu dari bakso ikan, bakso udang, dumpling dan lain sebagainya.

Untuk saos aneka seafoodnya yaitu ada kiniku, samyang, thaichan dan beberapa saus lainnya.

"Pembeli biasanya belanja dari Rp 5 ribu per kap hingga Rp 10 ribu. Saya berjualan dari pukul 14.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB," beber ayah 4 anak ini.

Setelah sekitar 6 bulan Iksan berjualan Korean Street Food kini omset perharinya mencapai Rp 1 juta hingga 1, 5 juta per harinya.

Dari hasil penjualannya itu ia mampu memenuhi kebutuhan keluarganya.

Iksan sendiri berharap dapat memiliki tempat jualan atau kedai sendiri tanpa harus menyewa. Dikarenakan jika usahanya maju, harga sewa tempat pun bisa ikut-ikutan naik.

"Sementara ini tetap mangkal dulu menggunakan mobil pikap. Sembari menabung agar bisa secepatnya memiliki kedai yang menetap untuknya berjualan," harapnya. (Rina Karlina/Mg)

 

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved