Obat Sirup dan Kasus Ginjal Akut Anak

Balita di Lebong yang Meninggal Positif Gagal Ginjal Akut, Ini Penjelasan Dinkes Provinsi Bengkulu

hasil penelusuran oleh Tim lPE, terhadap suspek gagal ginjal pada balita usia 4 tahun di Lebong, meninggal dunia akibat gagal ginjal akut.

Penulis: Jiafni Rismawarni | Editor: Yunike Karolina
Jiafni Rismawarni/TribunBengkulu.com
Kepala Dinkes Provinsi Bengkulu Herwan Antoni menerangkan hasil penelusuran Tim PE terhadap suspek gagal ginjal pada balita usia 4 tahun di Lebong dinyatakan positif gagal ginjal akut. 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Jiafni Rismawarni

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu Herwan Antoni mengatakan hasil penelusuran oleh Tim Penyelidikan Epidemiologi (PE) terhadap suspek gagal ginjal pada balita usia 4 tahun di Lebong dinyatakan positif gagal ginjal akut.

"Suspek kemarin sudah meninggal, dan dinyatakan oleh tim PE, itu gagal ginjal akut," ungkap Hewan Antoni, Minggu (23/10/2022).

Lanjut Herwan Antoni, balita positif gagal ginjal akut di Lebong sempat mengkonsumsi obat-obatan warung untuk mengobati batuknya.

Dari informasi Tim PE diketahui, jika obat yang dikonsumsi itu merupakan Unibebi Cough Sirup.

"Karena ada riwayat dia minum obat. Kemudian kematiannya itu salah satunya disebabkan kerusakan fungsi ginjal," kata Herwan.

Merek ini termasuk dalam obat yang diminta oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk ditarik dari peredaran.

Pasalnya, dalam kandungan sirup tersebut kadar kandungan ED dan  DEG melebihi ambang batas.

Pemberian Unibebi Cough Sirup bahkan dilakukan oleh orang tua balita laki laki, yang masih berusia 4 tahun ini tanpa melalui resep dari dokter.

"Juga ada riwayat penyakit penyertaan lain yang dideritanya, yakni kelainan jantung," jelas Herwan. 

Meskipun, ada riwayat mengkonsumsi sirup yang memiliki kandungan ED dan  DEG melebihi ambang batas, namun pihaknya belum dapat memastikan bahwasanya kematian balita ini disebabkan karena mengkonsumsi  Unibebi Cough Sirup ini.

"Rencananya mau merujuk ke M Yunus namun sudah meninggal sebelum sempat dirawat di M Yunus. Sampai saat ini, kita belum ada laporan suspek lagi," ujar Herwan.

Untuk itu, Dinkes Provinsi Bengkulu meminta para dokter menghentikan sementara memberikan resep sirup untuk pasiennya.

Hal ini dilakukan sebagai tindaklanjut dari, Surat Edaran (SE) Nomor SR.01.05/III/3461/2022 tentang Kewajiban Penyelidikan Epidemiologi dan Pelaporan Kasus Gangguan Ginjal Akut Atipikal (Atypical Progressive Acute Kidney Injury) Pada Anak, diteken oleh Plt Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Murti Utami pada Selasa lalu (18/10).

"Kita terhadap surat edaran itu, dihentikan sementara untuk diresepkan. Sambil menunggu petunjuk lebih lanjut," ucap Herwan.

Baca juga: Waspada Kasus Ginjal Akut Anak, BPOM Cek Penarikan 5 Produk Obat Sirup di Bengkulu

Baca juga: Obat Sirup Mengandung EG dan DEG Melebihi Ambang Batas Masih Beredar di Bengkulu, Cek Daftarnya!

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved