Anak Tersangka Penggelapan Hasil Panen Sawit di Bengkulu Tengah Merasa Diancam saat Ukur Lahan

Laporan Karsito warga Jakarta ke Polsek Talang Empat soal dugaan penggelapan hasil panen kebun sawit di Bengkulu Tengah berbuntut panjang.

Penulis: Beta Misutra | Editor: Yunike Karolina
Suryadi Jaya/TribunBengkulu.com
Kapolsek Talang Empat Iptu Andani Abadi didampingi Kasi Humas Polres Bengkulu Tengah, Aipda M Farizal saat melakukan konferensi pers terkait penipuan dan penggelapan yang dilakukan pengelola kebun kelapa sawit inisial BH, Selasa (22/11/2022). 

Laporan Reporter Tribun Bengkulu.com, Beta Misutra

 

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Laporan Karsito warga Jakarta ke Polsek Talang Empat soal dugaan penggelapan hasil panen kebun sawit di Bengkulu Tengah berbuntut panjang.

Keluarga Boy Hendrik (65) warga Kota Bengkulu tak terima dengan penetapan Boy sebagai tersangka penggelapan hasil panen sawit melakukan upaya praperadilan. Bahkan sampai melaporkan balik Karsito atas dugaan penyerobotan lahan ke Polres Bengkulu Tengah.

Anak tersangka penggelapan hasil panen sawit di Bengkulu Tengah, Jenggo mengaku jika ia bersama ayahnya Boy Hendrik sempat mendapat ancaman saat pengukuran lahan.

Sebelum Boy ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak Polsek Talang Empat, pihak Polsek sempat memanggil Boy untuk datang.

Pemanggilan tersebut tidak dilakukan melalui surat, melainkan hanya dilakukan melalui chat WhatsApp saja.

Saat datang ke Polsek Talang Empat, Boy ditemani oleh anaknya Jenggo.

Setalah dari Polsek, mereka langsung menuju kebun yang menjadi permasalahan untuk melakukan pengukuran tanah.

Karena satu hari sebelumnya, mereka sudah sepakat untuk melakukan pengukuran tanah, dengan mendatangkan pihak Badan Pertanahan Nasional (BPN).

"Sudah dari Polsek kami diajak ke kebun, sebelumnya kami sepakat mau ke kebun jika dihadirkan pihak BPN," kata Jenggo.

Baca juga: Keluarga Tersangka Penggelapan Hasil Panen Sawit Polisikan Balik Pelapor, Dugaan Penyerobotan Lahan

Namun ternyata saat tiba di kebun, tidak ada orang BPN sebagaimana yang dijanjikan di hari sebelumnya.

Saat itu yang hadir di lokasi hanyalah Kades Tanjung Dalam, Sekdes, Wakapolsek, Bhabinkamtibmas, Ibnu Ifan selaku pembeli lahan, saudara Ibnu Ifan yang dari PUPR Kepahiang, serta 20 orang yang diduga merupakan anak buah Ibnu Ifan.

Dari para anak buah Ibnu Ifan yang berjumlah sekitar 20 orang itulah, yang menurut Jenggo mereka mendapat pengancaman.

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved