OTT Pegawai SMA di Kepahiang

OTT Pegawai SMA di Kepahiang, Kapolres Harap Pertahanankan UPP Saber Pungli Terbaik

Kapolres Kepahiang, AKBP Yana Supriatna berharap untuk Kompol Andi Kadesma dapat mempertahankan prestasi sebelumnya & meningkatkan prestasi di Polres.

HO Polres Kepahiang
Kapolres Kepahiang, AKBP Yana Supriatna. Diwawancarai terkait perkembangan OTT Pegawai SMA di Kepahiang yang diduga pungli uang PIP. 

"Jika sudah ditangkap polisi, ya harus diselesaikan hingga ke pengadilan, jangan hanya bahasanya tindaklanjuti, agar publik tau ending dari kasus ini, apa lagi kasus ini dugaan pungli di dunia pendidikan," tuturnya. 

Lanjutnya, kasus seperti ini apalagi terjadi di dunia pendidikan, membuat dunia pendidikan malu, pihak kepolisian harus tegas dalam menangani kasus ini. Agar citra polri di masyarakat kembali membaik. 

Ditakutkan nanti setelah kasus dugaan pungli dana PIP ini mencuat, masyarakat tak mengetahui ending dari kasus ini, hal ini perlu dilakukan agar oknum-oknum pegawai itu merasakan efek jerah dari perbuatannya. 

"OTT yang dilakukan polisi pasti sudah memiliki alat bukti yang kuat sehingga melakukan operasi tangkap tangan. Jangan sampai kasus ini meredam saia, publik juga butuh ending kasus ini, apakah oknum tersebut dihukum atas perbuatan yang ia lakukan, agar ada efek jerahnya," tutupnya. 

Uang PIP Siswa Dipotong Rp 150 Ribu

Seorang siswa sekolah menengah atas (SMA) Negeri di Kabupaten Kepahiang yang diduga menjadi korban pemotongan uang Program Indonesia Pintar (PIP) oleh oknum pegawai SMA memberikan keterangan kepada pihak kepolisian. 

Ia menceritakan, kronolgi pemotoangan dana bantuan PIP terhadap dirinya dan beberapa rekannya oleh oknum pegawai SMA tersebut.

Ketika itu, pada Selasa (22/11/2022) dirinya masuk sekolah seperti biasa sekitar pukul 07.00 WIB.

Lalu, sekitar pukul 10.00 WIB ia bersama kelas 10 SMA yang lainnya berangkat dari sekolah ke salah satu bank di kawasan Dusun Kepahiang, untuk mengambil uang PIP tersebut. 

"Sekitar jam 11.00 WIB kami sudah di sini, jadi tadi dari sekolah ke bank ngambil uang ke orang bank sebesar Rp 500.000," ungkap siswi sekolah tersebut saat diwawancarai oleh Tribunbengkulu.com

Kemudian, usai mendapatkan uang sebesar Rp 500.000 itu, siswa dan siswi menyerah uang tersebut ke oknum pegawai SMA yang diduga terjaring OTT Tersebu.

Mereka menunggu oknum itu di dalam mobil angkutan umum atau taxi.

Saat menyerahkan uang, mereka menunggu di mobil, lalu dipotong oleh oknum tersebut sebesar Rp 150.000 dengan syarat untuk mencairkan uang PIP itu akta kelahiran sama kartu KK. 

"Kalau kata bapak itu Rp 50.000 untuk ongkos taxi, lalu Rp 100.000 untuk membuat piagam," tuturnya. 

Halaman
1234
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved