Cerita Azairin Guru SDN 39 Benteng: Jalan Rusak hingga Jembatan Putus jadi Tantangan

Azairin (54), seorang guru SDN 39 Bengkulu Tengah harus menempuh jarak tiga kilometer untuk bisa tiba di sekolah dan tak jarang dirinya harus berjalan

Penulis: Suryadi Jaya | Editor: Yunike Karolina
Suryadi Jaya/TribunBengkulu.com
Dua orang guru di Desa Tanjung Raman Kabupaten Bengkulu Tengah yang harus menumpang mobil pengangkut batubara, lantaran akses jalan dan jembatan mengalami rusak berat, Selasa (29/11/2022). 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Suryadi Jaya

 

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU TENGAH - Azairin (54), seorang guru SDN 39 Bengkulu Tengah (Benteng) harus menempuh jarak tiga kilometer untuk bisa tiba di sekolah dan tak jarang harus berjalan kaki. 

Hal tersebut lantaran akses jalan menuju ke sekolah tersebut mengalami rusak berat apalagi kontur perbukitan yang membuat jalan tersebut semakin sulit dilewati dengan kendaraan roda dua. 

Apalagi, jembatan yang menghubungkan Desa Tanjung Raman dengan Desa Sukarami juga tidak bisa digunakan lantaran sudah tertutup oleh sedimentasi sungai yang semakin tinggi. 

"Karena tidak bisa menggunakan motor, kami para guru harus menumpang di mobil pengangkut batu bara agar sampai di sekolah," kata Azairin. 

Guru yang telah mengajar sejak 5 tahun lalu itu pun bahkan sempat terjebak di Desa Tanjung Raman hingga empat jam lamanya, lantaran air sungai yang dalam dan tidak bisa dilewati. 

"Kadang kami harus berani menyebrangi sungai yang dalamnya sepinggang, kadang kalau ada rakit ya naik rakit, kalau tidak seperti itu tidak bisa pulang kami," ungkapnya. 

Azairin bahkan pernah berjalan kaki sejauh tiga kilo meter lantaran tidak ada mobil warga yang melintas sedangkan para murid sudah menunggu di sekolah. 

"Pernah kami jalan, kadang kondisi hujan mobil kan tidak bisa lewat, untuk sampai di sekolah kami jalan selama satu jam, semua ini demi anak-anak di sekolah," ujar Azairin. 

Meski setiap hari harus jalan kaki, menumpang mobil dan duduk diatas batu bara bahkan berenang, tidak menyurutkan semangat para guru yang mengajar di desa yang hampir terisolir tersebut. 

"Kita nikmati saja, jangan sampai jadi beban, karena kalau jadi beban bakalan terasa berat," kata Azairin. 

Dirinya pun berharap agar Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah bisa memperbaiki akses menuju ke Desa Tanjung Raman agar mempermudah akses mereka. 

"Semoga cepat diperbaiki, agar para guru dapat lebih cepat untuk sampai di sekolah," jelasnya.

 

Baca juga: Kasus TBC Paru Capai 118 Kasus di Bengkulu Tengah Sepanjang 2022

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved