Korupsi Baznas Bengkulu Selatan

Jaksa Periksa 214 Saksi untuk Penetapan Tersangka Korupsi Dana Baznas Bengkulu Selatan

Untuk menetapkan mantan bendahara baznar tahun 2019 sebagai tersangka dugaan korupsi dana Zakat, Infaq dan Sedekah. Kejari tidak mudah, lantaran harus

Ahmad Sendy Kurniawan Putra/TribunBengkulu.com
Kejari Bengkulu Selatan menetapkan tersangka dugaan korupsi Dana Baznas Bengkulu Selatan. Tersangka SF, mantan bendahara Baznas terlihat mengenakan rompi berwarna merah saat hendak digelandang ke Rutan Kelas IIB Manna, Kamis (1/12/2022). 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Ahmad Sendy Kurniawan Putra

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU SELATAN - Penetapan tersangka korupsi Dana Baznas Bengkulu Selatan tahun 2019 dan 2020 di Kejari Bengkulu Selatan melewati proses yang cukup panjang.

Sebelum menetapkan mantan bendahara inisial SF (44) sebagai tersangka, jaksa sudah memeriksa 214 saksi.

"Iya sudah tercatat ada 214 saksi yang kita periksa sebelum menetapkan tersangka (mantan bendahara,red)," jelas Kajari Bengkulu Selatan, Hendri Hanafi kepada TribunBengkulu.com, Kamis (1/12/2022).

214 saksi yang dilakukan pemeriksan melibatkan pegawai Baznas Bengkulu Selatan, penerima bantuan, penerima upahan, pihak ke tiga yang mengadakan barang dan jasa, serta pihak desa sebagai pembantu penyalur.

"Pegawai baznas, penerima bantuan, penerima upahan, pihak ke tiga yang mengadakan barang dan jasa, serta pemerintah desa," ungkap kajari.

Sementara, dalam perkara ini, Kejari Bengkulu Selatan hanya menyelidiki penggunaan anggaran ZIS ditahun 2019 dan 2020 tersebut sebesar sebesar Rp 5,8 miliar.

Padahal, anggaran yang didapat selama satu tahun ditambah dana hibah dari Pemkab Bengkulu Selatan, Baznas bisa sampai anggaran hingga Rp 10 miliar.

Mantan Bendara Baznas Tersangka Pertama

Kejari Bengkulu Selatan akhirnya menetapkan tersangka dalam kasus dugaan korupsi Dana Baznas tahun 2019 dan 2020.

Tersangka pertama dalam kasus dugaan korupsi Dana Baznas Kabupaten Bengkulu Selatan yaitu mantan bendahara inisial SF (44), yang saat itu masih aktif bertugas sebagai Bendahara Baznas Kabupaten Bengkulu Selatan.

Dalam kasus dugaan korupsi Baznas Bengkulu terdapat kerugian hingga 1 miliar lebih atau Rp 1.152.705.992,71.

Kajari Bengkulu Selatan Hendri Hanafi menjelaskan, dugaan korupsi pada anggaran Zakat Infaq Sedekah (ZIS) yang didapat dari kewajiban ASN di Bengkulu Selatan selama dua tahun, yaitu tahun 2019 dan 2020.

"Berdasarkan penyelidikan yang kita lakukan adalah korupsi pada ZIS yang dihasilkan dari ASN di Bengkulu Selatan serta dari perorangan," kata Hendri kepada TribunBengkulu.com, Kamis (1/12/2022).

Penyidik juga menemukan fakta adanya mark up dalam pengadaan bantuan yang ditujukan untuk kegiatan usaha dan modal usaha, bidang pendidikan dan kesehatan, serta bantuan fakir miskin yang bertentangan dengan prinsip pengelolaan zakat sebagaimana ketentuan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat.

Selain itu, penyidik juga menemukan fakta adanya uang yang tidak dapat dipertanggungjawabkan oleh pengelola. Sehingga berdasarkan hasil audit kerugian keuangan negara mencapai Rp 1.152.705.992.

Oleh karena itu, berdasarkan alat bukti pnyidik Kejaksaan Negeri Bengkulu Selatan menetapkan 1 tersangka inisial SF.

SF diduga telah melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana yang terdapat di dalam Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Setelah penetapan tersangka, Kejari Bengkulu Selatan melakukan penahanan terhadap SF selama 20 hari sembari menunggu pelimpahan berkas untuk disidangkan.

Baca juga: BREAKING NEWS: Tol Bengkulu - Taba Penanjung Segera Beroperasi, Selama Sosialisasi Masih Gratis

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved