Sidang Ferdy Sambo

Terkuak! Ada Upaya Paksa Matikan CCTV di Rumah Dinas Ferdy Sambo, Total Hingga 26 Kali

Terungkap ada upaya mematikan secara paksa CCTV di sekitar rumah Ferdy Sambo di Komplek Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Editor: Hendrik Budiman
Tribunnews.com/Rizki Sandi Saputra
Tampilan CCTV di Komplek Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan, saat Ferdy Sambo tiba di rumah dinasnya sebelum Yoshua tewas ditembak, video ini ditayangkan oleh jaksa penuntut umum (JPU) dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Selasa (29/11/2022). Terungkap ada upaya mematikan secara paksa CCTV di sekitar rumah Ferdy Sambo di Komplek Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan. 

TRIBUNBENGKULU.COM - Terungkap ada upaya mematikan secara paksa CCTV di sekitar rumah Ferdy Sambo di Komplek Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Hal itu diungkapkan Anggota Digital dan Komputer Forensik dari Puslabfor Polri, Hery Priyanto di persidangan, Rabu (1/12/2022).

Hery menjadi saksi dalam sidang perkara penghalangan penyidikan atau obstruction of justice kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J atas terdakwa Hendra Kurniawan dan Agus Nurpatria.

Awalnya, Hery menyebut pihaknya menerima sejumlah barang bukti terkait kasus tersebut untuk diperiksa.

"Ada pertama kami telah melakukan pemeriksan di kasus ini satu unit hard disk warna hitam, kedua adalah terhadap barang bukti digital unit DVR, dan satu buah microsoft surface hitam dalam keadaan terurai atau rusak," kata Hery di ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (1/12/2022).

Saat memeriksa DVR CCTV, muncul sebuah peringatan yang menyebut tidak adanya hardisk (penyimpanan) yang terdeteksi dalam DVR tersebut.

"Selanjutnya kami lakukan pemeriksaan metode Forensik, kami temukan hardisk tersebur tidak dikenali sebagai file sistem, dan tidak terdapat file apapun," jelasnya.

Kemudian, kata Hery, pihaknya melakukan pemeriksaan berkas yang berisi catatan dokumen digital atau log file dan ditemukan adanya upaya mematikan secara paksa atau upnormal shutdown pada DVR tersebut.

Namun, dia tidak merinci apakah upaya tersebut disengaja ataupun tidak.

"Kami temukan sebanyak 300 kami ambil sampling daei tanggal 8-13 Juli 2022. Kami temukan jejak digital berupa upnormal shutdown, pada tanggal 13 Juli 2022 sebanyak 17 kali. 12 Juli 2022 sebanyak 7 kali, 10 Juli sebanyak satu kali, dan 8 Juli sebanyak 1 kali," ungkapnya.

Baca juga: Misteri Perempuan Menangis Keluar dari Rumah Ferdy Sambo? Diduga Terkait Motif Pembunuhan Brigadir J

Hery menjelaskan jika alat tersebut dimatikan secara normal, maka akan ada catatan digitalnya. Namun, yang ditemukan berbeda.

"Apabila kita matikan secara sempurna maka akan menimbulkan log file power of dan on. Ketika kita menemukan logfile abnormal shutdown maka ada upaya mematikan secara paksa atau tidak prosedural. Bisa (karena) mati lampu atau dicabut," katanya.

Selanjutnya, Hakim Ketua, Ahmad Suhel bertanya terkait efek dari upaya mematikan secara paksa tersebut.

Hery mengatakan, efeknya bisa berdampak pada sistem penyimpanan DVR, termasuk kerusakan dan hilangnya file di dalamnya.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved