Sidang 4 Terdakwa Rudapaksa Pelajar Disabilitas Tunarungu di Bengkulu, JPU Bakal Hadirkan Penerjemah

Persidangan kasus rudapaksa dengan korban pelajar disabilitas tunarungu, dan terdakwa yang juga disabilitas tunarungu di Pengadilan Negeri Bengkulu.

Penulis: Romi Juniandra | Editor: Yunike Karolina
Romi Juniandra/TribunBengkulu.com
Kasi Intelijen Kejari Bengkulu, Riky Musriza menegaskan hak-hak terdakwa disabilitas akan dipenuhi JPU termasuk menghadirkan penerjemah. 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Romi Juniandra

 

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Persidangan kasus rudapaksa dengan korban pelajar disabilitas tunarungu, dan terdakwa yang juga disabilitas tunarungu di Pengadilan Negeri (PN) Bengkulu sempat terkendala.

Dalam 3 kali sidang sebelumnya, bahkan untuk pembacaan dakwaan, membutuhkan waktu cukup lama.

Terdakwa dalam kasus ini ada 4 orang, yakni LU (48), AG (38), MU (47) dan MY (21) keempatnya warga Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu. Terdakwa MU (47 tahun ) dan MY (21 tahun) adalah penyandang disabilitas tunarungu.

Penasehat hukum (PH) terdakwa, Panca Darmawan mengatakan ketidakhadiran terdakwa dalam persidangan dinilai tidak memenuhi hak terdakwa.

Karena itu, untuk agenda selanjutnya, yakni pemeriksaan saksi, baik pihak PH ataupun hakim juga akan meminta JPU membawa penerjemah. Tujuannya juga sama, agar terdakwa mampu memahami isi persidangan.

Selain itu, terdakwa juga harus dihadirkan langsung di ruang persidangan.

Menanggapi hal ini, Kasi Intel Kejari Bengkulu, Riky Musriza mengatakan JPU akan menghadirkan penerjemah ahli untuk persidangan selanjutnya, baik untuk saksi, korban, ataupun terdakwa.

"Artinya hak-hak terdakwa terpenuhi," kata Riky kepada TribunBengkulu.com, Rabu (18/1/2023).

Selain penerjemah, JPU juga akan melaksanakan penetapan dari majelis hakim. Saat majelis hakim menetapkan terdakwa harus dihadirkan secara langsung di persidangan, maka JPU akan melaksanakan.

"Kewajiban dari JPU melaksanakan penetapan hakim," ujar dia. 

Sidang berikutnya dijadwalkan pada Kamis, 19 Januari 2023 besok. Sidang sendiri berlangsung secara tertutup, karena sesuai ketentuan, persidangan terkait tindak asusila berlangsung tertutup.

Diberitakan sebelumnya, seorang pelajar disabilitas tunarungu di Kota Bengkulu yang baru berumur 17 tahun dirudapaksa oleh 10 pria dewasa dan dilakukan secara bergantian sejak Januari 2022 lalu hingga puluhan kali. 

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved