Senin, 20 April 2026

Gus Miftah Hina Penjual Es Teh

Perbedaan Sikap Gus Miftah dan UAS Soal Pedagang Es Keliling, Bak Langit Bumi 

Perbedaan sikap Gus Miftah dan Ustadz Abdul Somed alias UAS soal pedagang keliling, disebut bak langit dan bumi.

Editor: Rita Lismini
IG Gus Miftah/TribunBengkulu
Kolase foto Gus Miftah dan UAS. Perbedaan Sikap Gus Miftah dan UAS Soal Pedagang Keliling, Bak Langit Bumi 

TRIBUNBENGKULU.COM - Perbedaan sikap Gus Miftah dan Ustadz Abdul Somed alias UAS soal pedagang keliling, disebut bak langit dan bumi.

Selama ini Gus Miftah dikenal sebagai pemuka agama yang berdakwah dengan gayanya yang eksentrik dengan menggunakan surjan atau kemeja adat Jawa. 

Dirinya juga kerap menjadi sorotan karena perilaku dan omongannya yang dinilai kasar. 

Terbarunya, Gus Miftah mengolok-olok seorang pedagang es teh keliling saat acara Magelang bersholawat. 

Sebagian yang hadir di acara itu berteriak meminta Gus Miftah memborong dagangan pria yang menyaksikan dakwah sambil berdiri itu. 

Namun, Gus Miftah nyeletuk mengolok-olok pedagang minuman itu.

“Es tehmu masih banyak tidak? Masih? Ya sana jual go***!” celetuk Gus Miftah pakai bahasa Jawa yang disambut tawa mereka yang sepanggung dengan dirinya, Selasa (3/12/2024).

Sontak aksinya tersebut langsung dikuliti oleh masyarakat luas. 

Tak sedikit yang membandingkan sikap  Gus Miftah tersebut dengan UAS yang justru memuliakan seorang pedagang. 

"Bolehkah berdagang saat tabligh akbar?," kata UAS, dikutip TribunBengkulu.com, Rabu (4/12/24). 

"Boleh lah, kalau tak boleh mana mungkin kakak itu (pedagang es teh keliling yang sedang asyik berjualan)," ujar UAS sembarei tertawa. 

"Mainkan kak terus, tambah lagi," kata UAS. 

Tak hanya itu, dirinya bahkan turut memborong dagangan pedagang es teh tersebut. 

"Berapaan harganya satu kak? Silahkan pilih kakak pilih siapa yang mau dikasih, saya bayar dari sini," ungkap UAS. 

Sontak aksi UAS itu pun langsung disambut hangat oleh masyarakat yang hadir di acara tabligh akbar UAS. 

Nasib Gus Miftah 

Sosok Gus Miftah baru-baru ini tengah menjadi bahan perbincangan publik.

Pasalnya, pendakwah kondang itu melontarkan kata-kata kasar terhadap penjual es teh saat kajian.

Aksi Gus Miftah mempermalukan penjual es teh itu pun langsung menuai kecaman.

Sikap arogan dan kasar Gus Miftah itu pun dinilai tak pantas, padahal ia dikenal sebagai tokoh agama.

Apalagi, ia juga baru saja diangkat menjadi Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan.

Imbasnya, Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi mengatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memberikan teguran kepada Gus Miftah. 

Teguran kata Hasan dilayangkan melalui Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.

"Presiden sudah memberikan teguran kepada yang bersangkutan melalui Sekretaris Kabinet untuk segera meminta maaf kepada Bapak Soehaji yang mungkin saja dan sangat mungkin terluka perasaannya karena kejadian kemarin," kata Hasan dalam video yang diterima Tribunnews, Rabu, (4/12/2024).

Presiden juga kata Hasan telah mendapatkan informasi bahwa Miftah telah mendatangi penjual es teh bernama Surhaji itu. 

Miftah meminta maaf secara langsung kepada penjual es tersebut.

"Jadi kami juga sudah mendapatkan informasi, Bapak Presiden juga sudah mendapatkan informasi, Utusan Khusus Presiden sudah mendatangi Bapak Surhaji secara langsung ke Desa Banyusari, Kecamatan Grabak, Kabupaten Megelang, untuk menyampaikan permintaan maaf secara langsung," katanya.

Berdasarkan informasi yang diterima kata Hasan, permintaan maaf Miftah diterima Surhaji. Ia berharap silaturahmi dan hubungan baik terus terjalin.

"Bahkan Bapak Surhaji menyatakan ingin melihat Bapak Gus Miftah untuk mengadakan pengajian juga di desa beliau, di daerah Banyusari," katanya.

Klarifikasi Gus Miftah 

Gus Miftah mendapat teguran dari Sekretaris Kabinet (Seskab), Mayor Teddy Indra Wijaya, akibat ucapan kasarnya ke pedagang es teh.

"Saya juga sudah ditegur oleh Bapak Seskab yang hari ini berada di Kupang untuk lebih berhati-hati menyampaikan pendapat dan pidato di depan masyarakat umum," ucap Gus Miftah, Rabu.

Ia membuat video permintaan maaf ke Pak Sunhaji dan masyarakat atas ucapan kasarnya.

Meski sering bercanda saat mengisi pengajian, Gus Miftah mengaku perbuatannya salah.

"Maka untuk itu, atas candaan kepada yang bersangkutan, saya akan meminta maaf secara langsung. Dan mudah-mudahan dibukakan pintu maaf untuk saya." 

"Saya juga meminta maaf pada masyarakat atas kegaduhan ini, yang merasa terganggu dengan candaan saya, yang dinilai oleh masyarakat mungkin berlebihan, untuk itu saya minta maaf." sambungnya.

Gus Miftah akan menjadikan hal ini sebagai intropeksi agar berhati-hati saat berbicara di depan umum.

Berikut ucapan kasar Gus Miftah ke pedagang es teh:

"Es tehmu jik okeh ra? (Es tehmu masih banyak nggak?).

"Ya kana didol g*bl*k (ya sana dijual bodoh). Dolen dhisik, mengko nek urung payu, wis takdir. (Dijual dulu, kalau tidak laku, ya takdir)" kata Gus Miftah.

Ketua MUI Cholil Nafis Sindir Gus Miftah

Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis, menyoroti aksi Miftah Maulana.

Cholil Nafis menyayangkan sikap sang pedakwah yang melayangkan ucapan kasar kepada pedagang kecil yang berniat mencari nafkah.

Terlebih bagi seorang publik figur yang menjadi contoh untuk masyarakat.

"Orang jualan teh itu sedang mencari rezeki dengan kasab yang halal. Tentu sesuai dengan kapasitas masing-masing orang mencari rezeki," tulis Cholil Nafis, di akun X, Selasa (3/12/2024).

Ia mengimbau agar tidak meniru ucapan Gus Miftah yang dianggap mempermalukan seseorang.

Cholil Nafis bak menyindir dengan menekankan pentingnya menjaga etika dalam berkomunikasi, terutama di depan umum saat memberikan kajian keagamaan.

"Yang (ngustadz) kaya begitu jangan ditiru ya Dekk... Goblok-goblokin orang jualan itu tanda tidak belajar etika. Apalagi di depan umum saat pengajian. Astaghfirullah," tambahnya.

Cholil berpesan agar sang penceramah perlu mematangkan diri.

"Ya meskipun sambil ketawa mungkin bercanda, ucapan itu tak baik dikatan apalagi di depan publik oleh penceramah dan pejabat publik. Perlu kematangan diri sang penceramah dlm menanggapi sesuatu sehingga tdk kontra produktif.

Orang2 berharap kpd penceramah apalagi merangkap penjabat utk mendapat keteladanan. Itu tukang jual sdg berkasab mencari rezeki yg halal sesuai kemampuannya.

Yg seperti itu jangan ditiru ya Deekk.. astaghfirullah," tulis keterangan unggahannya.(**)

   

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved