Selasa, 5 Mei 2026

Gus Miftah Hina Penjual Es Teh

Siapa Saja yang Boleh Dipanggil Gus? Bikin Penasaran usai Gus Miftah Viral 

Mari kita simak, siapa saja yang boleh dipanggil Gus dan apa alasannya. 

Tayang:
Editor: Rita Lismini
YT Jogja
Siapa Saja yang Boleh Dipanggil Gus? Bikin Penasaran usai Gus Miftah Viral 

TRIBUNBENGKULU.COM - Mari kita simak, siapa saja yang boleh dipanggil Gus dan apa alasannya. 

Saat ini publik tengah dihebohkan dengan kejadian Gus Miftah yang mengolok-olok penjual es teh keliling. 

Padahal ia dikenal sebagai pemuka agama yang berdakwah dengan gayanya yang eksentrik dengan menggunakan surjan atau kemeja adat Jawa. 

Namun, gaya dakwah Gus Miftah sering kali dianggap berbeda dari kebanyakan, bahkan tidak jarang memicu pro dan kontra.

Salah satunya ucapannya yang mengolok-olok Sunhaji penjual es teh bikin masyarakat Indonesia merasa sakit hati.

Es tehmu jik okeh ra? Masih, yo kono didol ***** (Es teh kamu masih banyak atau tidak? Masih, ya sana dijual. Selanjutnya disensor)" ucap Gus Miftah dari atas panggung yang membuat para jemaah tertawa.

"Dolen ndisik ngko lak rung payu, wis, takdir (kamu jual dulu, nanti kalau belum laku, ya sudah, takdir)" lanjut Gus Miftah.

Karena dianggap sombong dan angkuh banyak yang penasaran dengan gelarnya dipanggil sebagai Gus.

Lantas, siapa sajakah yang boleh dipanggil dengan sebutan Gus? 

Nyatanya, panggilan Gus kini tidak hanya digunakan untuk keturunan kyai.

Namun, Drajat menggarisbawahi agar istilah Gus sebaiknya digunakan untuk seseorang dengan kapasitas tertentu, seperti penguasaan agama. 

"Yang penting adalah bahwa panggilan atau gelar Gus itu merupakan sebuah panggilan kepada orang yang memang mempunyai kapasitas dan validitas yang terkait dengan penguasaan agama dan penguasaan ilmu," terang Drajat.

Panggilan Gus juga sebaiknya tidak hanya disematkan kepada seseorang yang hanya punya ilmu pengetahuan, seperti profesor.

Aspek-aspek tersebut perlu dipenuhi karena seseorang yang dipanggil Gus nantinya dalam lingkungan masyarakat akan menjadi tokoh yang menjadi pusat pembelajaran.

Bahkan seorang Gus juga menjadi orang yang dipercaya sebagai guru serta rujukan.

"Gus" adalah gelar atau panggilan yang tidak asing bagi masyarakat Indonesia, khususnya di tanah Jawa.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Gus adalah nama julukan atau nama panggilan untuk anak laki-laki.

Gus juga digunakan sebagai nama panggilan untuk putra ulama, kyai, atau orang yang dihormati.

Di sisi lain, Gus diartikan sebagai panggilan untuk anak laki-laki atau pemilik pesantren.

Gelar Gus sering dikaitkan dengan pria yang menjadi tokoh kondang, terutama dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU).

Panggilan Gus berasal dari Jawa Timur

Guru Besar bidang Ilmu Sejarah Peradaban Islam UIN Raden Mas Said Surakarta, Syamsul Bakri mengatakan, gelar Gus berasal dari Jawa Timur.

"Gus adalah panggilan untuk Mas, kalau di Jawa. Istilah ini berkembang dari Jawa Timur," kata dia, saat dihubungi Kompas.com melalui sambungan telepon, Rabu (4/12/2024).

Awalnya, Syamsul menyampaikan, gelar Gus digunakan untuk panggilan anak laki-laki dari seorang Kyai di Jawa, sedangkan untuk anak perempuan dipanggil Ning.

Gelar ini digunakan di lingkungan pesantren NU di Jawa Timur.

Menurut dia, tidak ada kriteria khusus untuk dipanggil Gus karena gelar ini tidak berkaitan dengan keilmuan. 

Dikutip dari NU Online, panggilan Gus juga tidak harus untuk orang alim dalam bidang agama. Bergulirnya waktu, istilah Gus melebar dan digunakan untuk panggilan seorang mubaligh.

Mubaligh sendiri adalah orang yang menyampaikan ajaran Islam kepada orang lain.

Tapi, sangat disayangkan, panggilan Gus akhirnya dikapitalisasi untuk menipu atau sekadar mencari keuntungan.

"Akhirnya banyak gus-gus palsu atau KW," ucapnya.

Menurut Syamsul, penggunaan panggilan Gus semakin meluas karena migrasi penganut NU ke wilayah Jawa Tengah hingga Jawa Barat.

"Masyarakat sekarang juga tidak tahu asal-usulnya, asal mubaligh, maka dipanggil Gus. Dukun pun juga ada yang dipanggil Gus," kata dia.

"Banyak yang bukan Gus tapi dipanggil Gus. Dan mereka bangga, dianggap putra kyai," tandas Syamsul.

Arti panggilan Gus

Dalam tradisi keraton Sosiolog dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Jawa Tengah, Drajat Tri Kartono mengatakan, ada dua versi yang menerangkan soal makna panggilan Gus. 

Pertama, ada yang menjelaskan bahwa panggilan Gus berasal dari tradisi di keraton. 

"Keraton itu memberi panggilan 'Bagus' sebagai satu bentuk dari penghargaan terhadap orang-orang yang memang luhur, bagus budi pekertinya," kata dia, saat dihubungi Kompas.com, Rabu.

Ia mencontohkan, panggilan Gus diberikan kepada Sri Susuhunan Pakubuwono IV yang sekitar tahun 1700-1800 dipanggil dengan gelar Sunan Bagus.

"Kenapa begitu? Karena memang beliau orang yang memang pintar dan telah menciptakan banyak karya-karya sastra yang kemudian menjadi rujukan sampai sekarang," jelas dia.

Gelar serupa juga disematkan kepada Ranggawarsita, seorang penyair dan pujangga besar di Jawa dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Ia dikenal dengan nama Bagus Burhan. Menurut Drajat, pada zaman Kerajaan Mataram, gelar Gus juga digunakan untuk memanggil anak-anak kyai.

Hal ini bermula dari relasi antara kyai dan para raja-raja di Jawa. Para kyai biasanya diberi tempat tersendiri di dekat raja, yaitu di sekitar masjid atau yang sering disebut dengan Kauman. Kedekatan relasi ini membuat para raja memberikan panggilan khusus untuk anak para kyai, yaitu Gus.

"Untuk membedakan juga antara keturunan-keturunan raja yang biasanya dipanggil dengan Raden Mas, maka anak kyai diberi panggilan Gus," terang Drajat.

"Mengalirlah di situ kebiasaan gelar-gelar Gus kepada keturunan-keturunan kyai atau orang-orang sekitar kyai," imbuh dia.(**)

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved