Longsor Pekalongan
Kisah Dramatis Winarno, Warga Pekalongan yang Evakuasi Sendiri Istrinya Terjebak Longsor Berjam-jam
Kisah dramatis Winarno (42), seorang warga Pekalongan yang berjuang menyelamatkan istrinya yang terjebak longsor selama berjam-jam.
TRIBUNBENGKULU.COM - Bencana longsor yang terjadi di Desa Petungkriyono, Pekalongan, Jawa Tengah, pada Minggu (19/1/2025) menyisakan kisah dramatis dari Winarno (42), seorang warga yang berjuang menyelamatkan istrinya yang terjebak longsor selama berjam-jam.
Dengan tekad dan keberanian, Winarno menyusul sang istri yang berada di lokasi kejadian, meski harus berjalan kaki menembus medan yang sulit.
Winarno mengisahkan, dirinya mendengar kabar bahwa istrinya ikut menjadi korban longsor itu pada Senin malam setelah pulang kerja.
”Habis pulang kerja, saya belum sempat sampai di rumah, ada kabar dari teman bahwa istri saya terjebak di longsor,” kata Winarno dalam wawancara dengan Kompas TV, pada Selasa.
Setelah mendengar kabar itu, Winarno langsung mencoba menuju ke lokasi.
Namun, di tengah jalan, dia harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki karena jalan yang terdampak longsor tidak bisa dilalui sepeda motor.
”Saya ke sana dengan melewati sisa longsoran yang begitu dahsyat,” ujar Winarno yang merupakan warga Desa Tlogopakis, Kecamatan Petungkriyono.
Karena medan yang sulit, mereka terkepung longsor berjam-jam dan istri Winarno baru bisa dievakuasi pada Selasa (21/1/2025) pagi.
"Tidak ada alat untuk mengevakuasi karena semuanya terbatas," kata Winarno.
Winarno bahkan harus mengevakuasi sendiri istrinya dan harus berjalan kaki hingga 5 km.
"Jarak dari TKP ke puskesmas, kurang lebih 5 km," ujarnya.
Winarno menambahkan, saat ini, istrinya telah dievakuasi dan dirawat di puskesmas setempat.
Dia menyebut, kondisi istrinya masih lemas dan mengalami luka-luka di sejumlah bagian tubuh.
”Saat ini, kondisinya masih lemas. Banyak (anggota badan) yang luka-luka dan memar-memar karena terbawa oleh longsor tadi malam. Alhamdulillah masih bisa menyelamatkan diri,” tuturnya.
Warga lainnya, Daryanti, mengatakan, anaknya juga ikut menjadi korban luka dalam bencana tanah longsor tersebut.
Dalam wawancara dengan Kompas TV, Daryanti mengaku menerima informasi soal longsor tersebut pada Senin sekitar pukul 19.00.
Menurut Daryanti, saat itu, dirinya mendapat informasi bahwa kafe di Desa Kasimpar ikut terkena dampak bencana tanah longsor.
Padahal, anak Daryanti bekerja di kafe tersebut.
Setelah mendengar kabar itu, suami Daryanti pun pergi ke lokasi untuk mencari anaknya.
Saat suami Daryanti sampai di lokasi longsor, sang anak sudah ditemukan dengan kondisi selamat dan telah berada di rumah temannya.
Saat ini, anak Daryanti sudah dirawat di puskesmas.
”Sekarang (anak saya) di Puskesmas Petungkriyono. Alhamdulillah, anak saya selamat dari longsor. Alhamdulillah, sudah mendingan dan lukanya sudah diobati dan dirawat di puskesmas,” ungkap Daryanti.
Longsor Pekalongan 18 Orang Tewas
Bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah Pekalongan, Jawa Tengah, pada Minggu (19/1/2025) telah menelan korban jiwa sebanyak 18 orang.
Sementara 9 orang lainnya masih dinyatakan hilang dan diduga tertimbun material longsor.
Kini media sosial X diramaikan dengan tagar atau hashtag #PrayForPekalongan hari ini, Selasa (21/1/2025).
Tagar itu menggema setelah terjadi banjir bandang dan tanah longsor wilayah Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah dan telah menewaskan belasan orang.
Sejumlah warganet pun menyampaikan belasungkawa dan informasi mengenai banjir bandang dan tanah longsor Pekalongan tersebut di X.
“Innalilahi #PrayForPekalongan,” tulis @0xmammm. “#praforpekalongan,” tulis @adamm_mana.
Ada juga beberapa pengguna akun X yang membagikan video kejadian longsor Pekalongan sambil memasang tagar #prayforpekalongan.
Salah satunya, yakni pengguna akun @roniabidin2.
"#Prayforpekalongan kejadian hujan lebat mengakibatkan tanah longsor dan korban jiwa sudah 23 orang yang ditemukan, mohon bantuan dari semuanya," tulisnya.
Penyebab Longsor
Terkait hal tersebut, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pekalongan, Haryanto, menjelaskan bahwa intensitas hujan yang sangat tinggi menyebabkan sungai-sungai besar di wilayah itu meluap.
Beberapa desa di kawasan pegunungan juga mengalami tanah longsor akibat struktur tanah yang labil dan tidak mampu menahan air hujan.
Longsor Pekalongan hari ini tepatnya terjadi di Kecamatan Petungkriyono.
“Sebanyak 18 jiwa telah dievakuasi dan ditemukan meninggal dunia. Sedangkan 9 orang diperkirakan masih tertimbun dan dalam pencarian. Sedangkan 10 orang alami luka-luka,” ucap Bergas kepada Kompas.com.
Dia menerangkan, bencana banjir dan longsor Pekalongan ini diakibatkan oleh hujan lebat pada hari Senin, 20 Januari 2025 pukul 12.00 WIB di wilayah Petungkriyono.
Selain korban jiwa, sebuah kafe di Petungkriyono juga roboh akibat kejadian itu. Sementara untuk bangunan rumah yang mengalami kerusakan, masih dalam pendataan.
“(Jumlah) pengungsi madih dalam pendataan,” tutur Bergas.
Hingga kini, BPBD bersama pihak berwenang setempat lainnya masih dalam proses pencarian korban longsor Pekalongan yang belum ditemukan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/Kisah-Dramatis-Winarno-Warga-Pekalongan-yang-Istrinya-Terjebak-Longsor-Berjam-jam.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.