Rabu, 15 April 2026

Antrean BBM di Bengkulu

Curhat Sopir Angkot di Bengkulu, Rezeki Semakin Seret Gara-gara Antre BBM Berjam-jam

Curhat Sanit Sapi'i, sopir angkot di Kota Bengkulu yang terpaksa antre berjam-jam untuk mendapatkan BBM.

|
Penulis: Jiafni Rismawarni | Editor: Yunike Karolina
Jiafni Rismawarni/TribunBengkulu.com
ANTREAN BBM - Sopir Angkot di Bengkulu Sanit Sapi’i saat antre BBM di SPBU Rawa Makmur Kota Bungkulu, Rabu (23/4/2025). Antrean panjang BBM membuat pendapatan sopir angkot berkurang. 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Jiafni Rismawarni 

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Curhat Sanit Sapi'i (58), sopir angkot di Kota Bengkulu yang terpaksa antre berjam-jam untuk mendapatkan BBM.

Antrean panjang yang terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Bengkulu sangat ia rasakan dampaknya.

Sanit Sapi’i sudah lebih dari tiga dekade menggantungkan hidupnya dari mengemudikan angkot di Kota Bengkulu.

Sejak 1988, pria ini menyusuri jalanan kota membawa penumpang dari satu titik ke titik lain sesuai tujuan penumpang.

Akan tetapi belakangan ini, ia merasa roda kehidupannya tak sekencang dulu. Bukan karena usianya yang menua, tapi karena antrean panjang di SPBU yang menggerus pendapatannya.

"Kadang habis ngantri, nambang banyak lagi. Tapi kadang juga setengah jam sekali belum dapat penumpang," keluh Sanit, saat ditemui di sela antrean panjang BBM di area SPBU Rawa Makmur Kota Bungkulu.

Bagi sopir angkot sepertinya, sekali mengisi bahan bakar adalah momen penting agar angkotnya bisa terus beroperasi. Namun kini, ada kendala dikarenakan panjangnya antrean di SPBU. 

"Ngisinya sehari sekali. Misal kita isi pagi, yang kedua kali nggak bisa lagi. Jadi mutar ngambil penumpang juga lebih sedikit waktunya," jelasnya.

Sanit mengeluhkan antrean BBM yang semakin lama. Dua jam bisa habis waktu hanya untuk mengisi tangki mobil angkotnya

Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk "nambang" atau mencari penumpang malah habis di SPBU.

"Tambah hancur kita. Dua jam ngantre, terus nambang nggak dapat apa-apa. Pendapatan turun. Kita cuma dapat duit Rp80 ribu, itu habis buat beli minyak. Habis itu mutar lagi, dapat duit lagi, beli minyak lagi, habis lagi. Kadang balik saja aku sudah capek," ucapnya dengan nada lelah.

Harapan Sanit sederhana. Ia ingin bisa bekerja seperti biasa, tanpa harus terhambat antrean panjang dan aturan pembatasan yang tak berpihak.

Tiga puluh enam tahun menjadi sopir angkot, Sanit mengaku tahun ini adalah masa tersulitnya.

"Harapan kami, jangan ngantre, nambang (dapat penumpang, red) lancar itu saja. Inilah yang paling panjang ngantrinya, sampai ke atas," kata Sanit sembari menunjuk jalur menanjak di sekitar SPBU.

Sanit pun kembali ke belakang barisan panjang kendaraan. Dengan sabar, ia menunggu giliran mengisi BBM, berharap hari itu bisa pulang dengan membawa sedikit hasil.

Baca juga: Penjelasan Pertamina soal Antrean Panjang BBM di Sejumlah SPBU Kota Bengkulu

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved