Rabu, 3 Juni 2026

Berita Mukomuko

Viral Jalan Berlumpur di Kecamatan Air Rami Mukomuko Bengkulu, Ini Solusi dari Pemkab

Pemerintah Kabupaten Mukomuko Jemput Anggaran Pusat, untuk Pembangunan Jalan Berlumpur di 4 Desa di Mukomuko Bengkulu.

Tayang: | Diperbarui:
Panji Destama/TribunBengkulu.com
PEMBANGUNAN JALAN - Kepala Dinas PUPR Mukomuko, Apriansyah saat diwawancarai, Senin (21/4/2025). Pemerintah Kabupaten Mukomuko Jemput Anggaran Pusat, untuk Pembangunan Jalan Berlumpur di 4 Desa di Mukomuko Bengkulu. 

Pemkab Mukomuko Usulkan Anggaran Pusat untuk Perbaikan Jalan di 4 Desa Air Rami

TRIBUNBENGKULU.COM, MUKOMUKO – Pemerintah Kabupaten Mukomuko, melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), sedang mengupayakan dukungan anggaran dari pemerintah pusat guna membangun akses jalan di empat desa dalam Kecamatan Air Rami, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu.

Hal ini mencuat setelah beredarnya video viral yang memperlihatkan seorang guru di Air Rami harus mendorong sepeda motornya melintasi jalan berlumpur demi bisa sampai ke sekolah.

Video tersebut direkam di wilayah Desa Cinta Asih, Kecamatan Air Rami.

Dinas PUPR Mukomuko Tunggu Proses dari Pusat

Kepala Dinas PUPR Mukomuko, Apriansyah, menyampaikan bahwa pihaknya telah menerima permintaan data dari Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Bengkulu untuk kondisi jalan tersebut.

"Baru-baru ini kami diminta menyerahkan data kondisi jalan oleh BPJN Bengkulu, guna dimasukkan ke Sistem Informasi Database Jalan (SIPDJD) milik pemerintah pusat, termasuk jalan di wilayah Air Rami," jelas Apriansyah, Jumat (30/5/2025).

Ia menambahkan, pembangunan jalan tersebut rencananya akan menggunakan dana dari Instruksi Presiden (Inpres) atau melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Apriansyah pun meminta masyarakat di empat desa terdampak untuk bersabar, karena pembangunan yang hanya menggunakan batu koral dianggap tidak memadai.

Tertunda karena Efisiensi Anggaran

Pembangunan jalan yang seharusnya dilaksanakan di tahun 2025 batal direalisasikan akibat adanya efisiensi anggaran.

Sebelumnya, pemerintah daerah telah menganggarkan proyek tersebut melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp 22 miliar. Namun, anggaran tersebut akhirnya dipotong.

"Awalnya pembangunan jalan tersebut direncanakan memakai DAK sebesar Rp 22 miliar, tapi karena kebijakan efisiensi, anggaran itu akhirnya tidak jadi digunakan," jelas Apriansyah, Rabu (30/4/2025).

Kini, Dinas PUPR sedang mencari solusi lain dengan mengupayakan pendanaan dari pemerintah pusat, yang ditargetkan dapat direalisasikan pada tahun 2026. Dana Inpres menjadi salah satu opsi yang sedang dikoordinasikan.

Jalan Belum Pernah Dibangun Sejak 1982

Menurut Sekretaris Kecamatan Air Rami, Andri Kusnadi, kondisi jalan sepanjang 7 kilometer yang menghubungkan empat desa, yakni Desa Tirta Kencana, Cinta Asih, Marga Mulya, dan Bukit Harapan, belum pernah dibangun sejak tahun 1982.

"Jalan tersebut belum pernah dibangun sejak 43 tahun lalu. Sebagian besar masih berupa tanah liat, dengan beberapa bagian kecil yang sudah beraspal," kata Andri.

Ia menambahkan bahwa pihak kecamatan telah meminta bantuan perusahaan kelapa sawit untuk membantu perbaikan sementara, seperti meratakan dan melakukan pengoralan. Namun, dukungan dari dana DAK maupun Dana Alokasi Umum (DAU) belum tersedia.

Rencana pembangunan dengan dana Inpres juga sempat tertunda karena perubahan kebijakan pusat.

Fasilitas Umum Ada, Tapi Jalan Masih Berlumpur

Andri menyebutkan bahwa di keempat desa tersebut sudah terdapat fasilitas pendidikan seperti PAUD dan sekolah dasar, serta layanan kesehatan berupa Puskesmas Pembantu (Pustu). Namun akses jalan yang buruk menjadi kendala besar, terutama saat hujan turun.

"Ada 4.216 jiwa yang tinggal di empat desa tersebut menurut data BPS 2023. Saat hujan, jalan berubah menjadi lumpur, sehingga menyulitkan warga untuk beraktivitas," jelasnya.

Perjuangan Guru Mengajar di Tengah Jalan Berlumpur

Salah satu guru honorer, Elmi Delviyana, menjadi sorotan publik setelah videonya mendorong motor di jalan berlumpur viral di media sosial Facebook.

Video berdurasi 35 detik yang memperlihatkan dirinya menggunakan seragam batik PGRI ini menuai banyak perhatian dan komentar.

Elmi mengungkapkan bahwa setiap hari ia harus menempuh jalan berlumpur tersebut untuk mengajar di SD Negeri 4 Air Rami di Desa Marga Mulya, berangkat dari rumahnya di Desa Arga Jaya sekitar pukul 07.00 WIB.

"Kalau hujan, bisa sampai jam 09.00 baru tiba di sekolah. Jalanannya berat, kadang harus pakai sandal dulu dari rumah, lalu ganti sepatu saat sampai sekolah," tuturnya.

Guru yang sudah mengabdi sejak tahun 2013 ini menyebutkan bahwa kondisi jalan tersebut sudah seperti itu sejak awal ia mulai mengajar. Ia juga mengeluhkan sistem absensi online yang cukup menyulitkan dalam situasi seperti ini.

"Anak-anak di sekolah sudah maklum kalau saya terlambat. Tapi saya sangat berharap jalan ini segera dibangun agar kami bisa mengajar tepat waktu," harap Elmi.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved