Jumat, 5 Juni 2026

Berita Kepahiang

Kata Warga Soal Mandirinya Desa Karang Endah Soal Air, Tak Pernah Lagi Khawatir Kekeringan

Zetri (30 tahun) tampak tengah menikmati waktu bersantai di rumah mereka di Karang Endah, Kepahiang, Bengkulu, pada Minggu (1/6/2025).

Tayang:
Penulis: Romi Juniandra | Editor: Ricky Jenihansen
Romi Juniandra/TribunBengkulu.com
PAMDES KARANG ENDAH - Zetri, warga Karang Endah, Kepahiang, Provinsi Bengkulu pada Minggu (1/6/2025). Dia adalah salah satu pelanggan PAMDes milik desa, dan mengaku aliran air lancar ke rumahnya. 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Romi Juniandra

TRIBUNBENGKULU.COM, KEPAHIANG - Zetri (30 tahun) tampak tengah menikmati waktu bersantai di rumah mereka di Karang Endah, Kepahiang, Bengkulu, pada Minggu (1/6/2025).

Mereka adalah petani, dan menggantungkan hidup pada hasil kebun kopi mereka.

Dulu, rumah mereka yang terletak di lereng bukit, membuat mencari air jadi tantangan tersendiri. Sumur bisa dibuat, namun penggalian membutuhkan waktu dan harus dengan kedalaman tertentu.

Kalau beralih menjadi pelanggan PDAM, ada keraguan, bagaimana pemasangan ke rumah mereka yang cukup jauh dari pusat kota. Apalagi, dia juga mendapatkan kabar yang menyebutkan aliran air dari PDAM tidak lancar.

Beruntung, Desa Karang Endah ini memiliki PAMDes sendiri, yang dikelola oleh BUMDes.

Sekitar dua tahun lalu, Zetri mendaftar, dan mendapatkan pemasangan pipa ke rumahnya.

"Dan Alhamdulilah, sampai sekarang, aliran air ke rumah kami lancar dari PAMDes ini. Rasanya tak khawatir lagi soal air atau kekeringan," kata Zetri kepada TribunBengkulu.com, Minggu (1/6/2025).

Sesekali, kata Zetri, memang terjadi aliran air tersendat, karena ada perawatan atau perbaikan.

Namun, hal itu biasanya tidak berlangsung lama, dan hanya terjadi beberapa kali saja.

Air dari PAMDes ini bisa digunakan Zetri untuk berbagai keperluan, mulai untuk air minum, kebutuhan dapur, hingga untuk kebutuhan di kamar mandi.

"Setiap bulan, saya rata-rata bayar Rp 30 ribu. Kadang kurang dari itu, kadang lebih. Tergantung pemakaian," kata Zetri.

Warga lain, Resti, juga memiliki pengalaman yang sama.

Dulu, sebelum menggunakan PAMDes ini, dia menggunakan air sumur milik keluarga samping rumah, yang meski lancar, tapi membutuhkan tenaga lebih untuk menimba.

Dua tahun lalu, Resti kemudian mendaftar, dan menjadi pelanggan PAMDes yang dimiliki desa.

Dan sejak saat itu, kata Resti, air di rumahnya menjadi lancar, dan langsung mengalir ke kamar mandi dan dapur.

"Seingat saya, selama dua tahun ini, lancar terus. Saya membayar sekitar Rp 20 ribu sebulan, lumayan murah," ungkap Resti.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved