Kalender 2025
Rahasia Malam 1 Suro 2025: 6 Amalan Ampuh dan Pantangan yang Harus Dihindari
Tak sekadar penanda pergantian tahun baru Islam (1 Muharram), malam ini diyakini menyimpan energi spiritual yang kuat.
Disclaimer TribunBengkulu.com hanya menuliskan hasil rangkuman hal-hal yang sering dilakukan masyarakat, Tribuners boleh mempercayai atau tidak.
TRIBUNBENGKULU.COM - Malam 1 Suro 2025 dipandang sebagai malam penuh makna dan mistik dalam tradisi Jawa.
Tak sekadar penanda pergantian tahun baru Islam (1 Muharram), malam ini diyakini menyimpan energi spiritual yang kuat.
Di balik nuansa sakralnya, ada amalan-amalan ampuh yang dipercaya membawa berkah serta pantangan-pantangan yang sebaiknya dihindari agar terhindar dari kesialan.
Apa saja yang perlu dilakukan dan dihindari saat malam 1 Suro 2025?
Cek selengkapnya berikut ini, beserta tanggal pastinya menurut kalender Jawa.
Amalan Malam 1 Suro dan Penjelasannya
Ada enam amalan malam 1 Suro yang perlu diketahui. Mulai dari amalan siraman, tapa mbiksu, ziarah, sesaji, jamasan pusaka, dan larung sesaji.
Ini penjelasan dari enam amalan malam 1 Suro yang dilansir dari beragam sumber :
1. Siraman Malam 1 Suro
Amalan malam 1 Suro adalah melakukan siraman. Ini berupa ritual mandi besar dengan menggunakan air serta dicampur kembang setaman. Siraman sama dengan bentuk “sembah raga” (sariat) dengan tujuan menyucikan raga, sebagai acara seremonial pertanda dimulainya tirakat sepanjang bulan Suro.
Sepert lebih ketat dalam menjaga dan menyucikan hati, pikiran, serta menjaga panca indera dari hal-hal negatif. Pada saat melakukan amalam malam 1 Suro ini, harus sambil berdoa memohon keselamatan kepada Tuhan agar dijaga dari bencana, musibah, kecelakaan.
Doanya dalam satu fokus yakni memohon keselamatan diri dan keluarga, serta kerabat handai taulan. Contohnya, mengguyur badan dari ujung kepala hingga sekujur badan sebanyak 7 kali siraman gayung (7 dalam bahasa Jawa; pitu, merupakan doa agar Tuhan memberikan pitulungan atau pertolongan).
Bisa juga 11 kali (11 dalam bahasa Jawa; sewelas, merupakan doa agar Tuhan memberikan kawelasan; belaskasih). Atau 17 kali (17 dalam bahasa Jawa; pitulas; agar supaya Tuhan memberikan pitulungan dan kawelasan). Mandi lebih bagus dilakukan tidak di bawah atap rumah; langsung “beratap langit”; maksudnya adalah secara langsung menyatukan jiwa raga ke dalam gelombang harmonisasi alam semesta.
2. Tapa Mbisu (Membisu)
Tapa mbisu adalah amalan malam 1 Suro dengan sikap selalu mengontrol ucapan mulut agar mengucapkan hal-hal yang baik saja. Ini karena dipercaya dalam bulan Suro yang penuh tirakat, doa-doa lebih mudah terwujud atau diijabah. Ini termasuk ucapan atau umpatan jelek yang keluar dari mulut dapat “numusi” atau terwujud.
3. Menggiatkan Ziarah
Menggiatkan ziarah adalah amalan malam 1 Suro. Seperti masyarakat Jawa yang menggiatkan ziarah ke makam para leluhurnya masing-masing, atau makam para leluhur yang yang dahulu telah berjasa bagi negara.
Cara menghormati dan menghargai jasa para leluhur kita selain mendoakan, tentunya dengan merawat makam. Sebab makam adalah monumen sejarah yang dapat dijadikan media mengenang jasa-jasa para leluhur, mengenang dan meneladani amal kebaikan beliau semasa hidupnya.
4. Sesaji Bunga Setaman
Sesaji bunga setaman adalah amalan malam 1 Suro. Ini dilakukan dengan menyediakan sesaji bunga setaman di wadah berisi air bening, ditaruh dalam rumah. Ritual ini penuh dengan makna yang dilambangkan dalam berbagai macam hal yang diikutsertakan. Bunga mawar merah, mawar putih, melati, kantil, kenanga.
Masing-masing bunga memiliki makna doa-doa agung kepada Tuhan yang tersirat di dalamnya. Bunga-bungaan juga ditaburkan ke pusara para leluhur, agar ada perbedaan antara makam seseorang yang kita hargai dan hormati, dengan kuburan seekor kucing yang berupa gundukan tanah tak berarti dan tidak pernah ditaburi bunga, serta-merta dilupakan begitu saja oleh pemiliknya berikut anak turunnya si kucing.
5. Jamasan Pusaka
Jamasan pusaka adalah amalan 1 Suro yang dilakukan dalam rangka merawat atau melestarikan warisan dan kenang-kenangan dari para leluhurnya. Pusaka memiliki segudang makna di balik wujud fisik bendanya. Ini hasil karya cipta dalam bidang seni dan ketrampilan para leluhur kita di masa silam.
Dari sikap menghargai lalu tumbuh menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi generasi penerus bangsa agar berbuat lebih baik dan maju di banding prestasi yang telah diraih para leluhur kita di masa lalu. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para leluhurnya, para pahlawan, dan para perintisnya.
6. Larung Sesaji
Larung sesaji adalah amalan 1 Suro dengan ritual sedekah alam. Uborampe atau ragam bahan ritual disajikan (dilarung) ke laut, gunung, atau ke tempat-tempat tertentu. Tradisi budaya ini yang paling riskan dianggap musyrik. Ini bisa terjadi bila seseorang hanya melihat apa yang tampak oleh mata tanpa ada pemahaman makna esensial dari ritual larung sesaji.
Berikut deretan pantangan Malam 1 Suro yang dirangkum dari beragam sumber :
1. Larangan Menikah di Malam 1 Suro
Larangan menikah di malam 1 Suro khususnya diberlakukan bagi masyarakat di Solo dan Yogyakarta. Beberapa dari mereka mempercayai jika mengadakan hajatan pernikahan di bulan Suro akan mendatangkan malapetaka.
Dalam buku berjudul Panduan Syahadat (2015) oleh Taufiqurrohman, larangan malam 1 Suro dengan mengadakan hajatan pernikahan, dinilai akan membawa kesialan bagi pasangan pengantin dan seluruh orang yang terlibat dalam acara.
Ada pula yang mengatakan larangan menikah di malam 1 Suro, karena ini bulan "menantu" bagi Nyi Roro Kidul. Maka dari itu masyarakat setempat tidak diperkenankan mengadakan pernikahan karena akan membuat penguasa laut selatan murka dan meminta tumbal.
2. Larangan Bicara atau Berisik
Larangan malam 1 Suro yang paling sakral adalah “Tapa Bisu” atau berupa larangan berbicara. Masyarakat di Solo dan Yogyakarta masih banyak yang melakukannya, khususnya di sekitar lingkungan keraton.
Masyarakat dilarang berbicara sesuatu yang tidak penting, sesuatu yang buruk, hingga memanjatkan doa buruk karena diyakini bulan Suro segala ucapan dikabulkan. Selain dilarang berbicara, larangan malam satu Suro lainnya adalah makan, minum, bahkan merokok.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menjelaskan, di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada peringatan malam satu Suro, melakukan arak benda pusaka mengelilingi benteng kraton yang diikuti oleh ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya.
Selama melakukan ritual mubeng beteng inilah masyarakat tidak diperkenankan atau ada larangan malam 1 Suro untuk berbicara seperti halnya orang sedang bertapa. Ritual ini juga dikenal dengan istilah tapa mbisu mubeng beteng.
3. Larangan Membangun Rumah di Malam 1 Suro
Masyarakat Jawa khususnya di Solo dan Yogyakarta, ada larangan malam 1 Suro seperti membangun rumah. Liputan6.com lansir dari berbagai sumber, hal ini tidak diperkenankan karena bisa membawa kesialan bagi pemiliknya. Seperti akan mendatangkan sakit, penderitaan, seretnya rezeki, dan lain sebagainya.
4. Larangan Pindah Rumah di Malam 1 Suro
Larangan malam 1 Suro yang mirip adalah tidak diperbolehkan pindah rumah. Dampak buruk dari melanggar larangan pindah rumah, sama dengan akibat ketika membangun rumah di malam satu Suro. Masyarakat menyebutnya pamali dan bisa mendatangkan kesialan.
5. Larangan Keluar Rumah di Malam 1 Suro
Keluar rumah di malam 1 Suro dilarang karena beberapa alasan masyarakat Jawa mempercayai jika arwah leluhur yang sudah meninggal akan datang kembali ke rumah keluarganya pada malam satu Suro.
Ini alasan mengapa ada larangan malam 1 Suro seperti tidak boleh keluar rumah. Selain itu, beberapa sumber menyatakan di malam satu Suro banyak jin yang berkeliaran dan dapat mencelakai manusia hingga membuat mereka sial.
6. Larangan Mengadakan Acara Lainnya di Malam 1 Suro
Larangan menggelar acara pernikahan di malam 1 Suro sudah sangat umum, ini termasuk larangan menggelar acara atau hajatan lainnya di malam satu Suro. Seperti hajatan sunatan, hajatan kelahiran, dan hajatan sejenisnya.
Mengapa larangan malam 1 Suro ini ada? Dalam buku berjudul Sajen dan Ritual Orang Jawa (2010) oleh Wahyana Giri, malam 1 Suro adalah malam yang suci serta bulannya penuh rahmat.
Di malam 1 Suro, beberapa orang Jawa Islam percaya, ini momen yang tepat mendekatkan diri kepada Tuhan bisa dengan cara membersihkan diri serta melawan nafsu manusiawinya.
larangan malam 1 Suro
Apa Itu Malam 1 Suro ?
Malam 1 Suro
Amalan Malam 1 Suro
Kalender Jawa
Kalender Jawa 2025
| Kalender 2025: Hari Ibu Tanggal 22 Desember Weton Senin Pon, Ini Makna dan Pantangannya |
|
|---|
| Kalender 2025: Tanggal 22 Desember Hari Ibu, Long Weekend Semakin Dekat |
|
|---|
| Kalender 2025: Senin 22 Desember Hari Ibu, Long Weekend Terakhir? Cek Kalender Resmi dari Pemerintah |
|
|---|
| Kalender 2025: Long Weekend di Depan Mata, Cek Berapa Hari dan Peringatan Apa! |
|
|---|
| Tanggal 20 Desember Peringatan Apa Saja? Ada 2 Momen Penting, Long Weekend di Depan Mata |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/Malam-1-Suro-2023-Bagi-Masyarakat-Jawa.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.