Kamis, 4 Juni 2026

Berita Rejang Lebong

Nasib PDAM Rejang Lebong Terancam Gulung Tikar Imbas Tunggakan Capai Rp 16,5 Miliar

Tunggakan Pelanggan Capai Rp 16,5 Miliar, PDAM Rejang Lebong Terancam Gulung Tikar.

Tayang:
Penulis: M Rizki Wahyudi | Editor: Hendrik Budiman
M Rizki Wahyudi/Tribunbengkulu.com
TERANCAM TUTUP - Foto PDAM Tirta Bukit Kaba Rejang Lebong. Perusahan air milik daerah ini terancam tutup akibat tunggakan pelanggan yang mencapai Rp 16,5 miliar. 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Rizki Wahyudi

TRIBUNBENGKULU.COM, REJANG LEBONG - Kondisi keuangan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Kaba Rejang Lebong kian mengkhawatirkan.

Hingga saat ini, perusahan tersebut terus mengalami kerugian,  akumulasi tunggakan pelanggan saat ini telah menembus angka Rp 16,5 miliar.  

Plt Direktur Utama PDAM Tirta Bukit Kaba, Pranoto Majid mengatakan, pihaknya terus melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan perusahaan dari ancaman krisis finansial.

Jika tidak segera ditindaklanjuti, bukan tidak mungkin perusahaan milik daerah ini terancam gulung tikar dalam lima tahun ke depan. 

“Ini harus kita selamatkan. Kita tagih tunggakan dan harus ada kesadaran dari para pelanggan. Atau jika tidak, sambungan air akan kami putus,” tegas Pranoto. 

Untuk mengatasi krisis, PDAM akan melakukan penagihan intensif kepada pelanggan yang menunggak, menertibkan sambungan ilegal, memperbaiki kebocoran jaringan, dan membenahi manajemen internal.

Bahkan, pengurangan karyawan menjadi opsi terakhir jika kondisi keuangan tetap defisit. 

"Kita siapkan berapa langkah-langkah yang akan dilakukan,"lanjut Pranoto. 

Sebagian pelanggan berdalih enggan membayar karena suplai air yang tidak lancar. Namun Pranoto membantah alasan tersebut.

Ia menjelaskan, gangguan distribusi baru terjadi dalam beberapa tahun terakhir, sedangkan kebiasaan menunggak sudah berlangsung jauh sebelumnya.

“Masalah suplai memang ada, tapi bukan alasan untuk tidak membayar. Tunggakan sudah menumpuk bahkan sebelum ada gangguan distribusi,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa debit air dari Sungai Musi yang sebelumnya mencapai 515 liter per detik, kini menyusut drastis menjadi hanya 149 liter per detik.

Kerusakan lingkungan dan alih fungsi lahan menjadi faktor utama penurunan suplai air.

 Akibat keterbatasan suplai, layanan kepada sekitar 14 ribu pelanggan kini dilakukan secara bergilir.

Pranoto menyebut pihaknya sedang mengupayakan penambahan sumber air baru. .

“Kalau tunggakan bisa ditekan, perusahaan ini akan sehat dan tetap bisa memberikan kontribusi ke Pendapatan Asli Daerah,”pungkasnya.

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved