Jumat, 5 Juni 2026

Berita Bengkulu Tengah

Harga Karet Bengkulu Utara Masih Rendah, Petani Banyak Beralih ke Sawit

Harga karet di Bengkulu Utara anjlok, petani merugi dan banyak beralih ke sawit demi bertahan hidup.

Tayang:
Penulis: Bima Kurniawan | Editor: Ricky Jenihansen
M Bima Kurniawan/TribunBengkulu.com
TUMPUKAN KARET – Karet milik Jumadi di Desa Tebing Kaning, Kecamatan Arma Jaya, Bengkulu Utara, Minggu (24/8/2025). Harga komoditas karet di daerah ini masih mengalami penurunan. 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan  

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU UTARA - Harga komoditas karet di Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, masih mengalami penurunan.

Rendahnya harga karet ini berdampak pada penghasilan petani. Hal tersebut disampaikan Jumadi (47), warga Desa Tebing Kaning, Kecamatan Arma Jaya, Bengkulu Utara.

Saat ini, harga karet basah berkisar Rp9.500 per kilogram, sedangkan karet kering sekitar Rp10.000 per kilogram, per Minggu (24/8/2025).

"Kondisi harga karet saat ini masih relatif rendah, karet kering Rp10.000, karet basah Rp9.500," ungkap Jumadi saat diwawancarai TribunBengkulu.com, Minggu (24/8/2025).

Penurunan harga ini sudah terjadi sejak usai Lebaran pada Mei 2025 hingga sekarang.

"Penurunan ini terjadi sejak sehabis Lebaran kemarin, sudah lama nian turunnya," kata Jumadi.

Menurutnya, sebelum Lebaran harga karet masih sekitar Rp11.500 per kilogram. Namun, harga tersebut terus menurun hingga kini hanya Rp10.000.

"Sebelumnya harga karet basah sebelum Lebaran sekitar Rp11.500, berangsur turun sekarang umumnya Rp10.000," beber Jumadi.

Ia menambahkan, belum diketahui secara pasti penyebab turunnya harga karet yang dibeli oleh pabrik.

"Penyebab turunnya belum kita ketahui, itu dari pabriknya," jelas Jumadi.

Baca juga: Prakiraan Cuaca Bengkulu Utara di 19 Kecamatan Minggu 24 Agustus 2025 Berawan-Hujan

Selain harga yang rendah, petani juga menghadapi penurunan produksi akibat faktor cuaca dan pohon karet yang sedang menggugurkan daun.

"Produksi karet petani juga sedang menurun karena kondisi cuaca dan daun mulai gugur," terang Jumadi.

Kondisi ini membuat banyak petani karet gulung tikar dan memilih beralih ke perkebunan sawit.

"Sekarang sudah susah karet, soalnya petani karet kita banyak beralih ke sawit," ungkapnya.

Penurunan produksi getah karet bahkan mencapai 10 ton dari kondisi normal.

"Seminggu biasanya sekitar 50 ton, sekarang hanya 30–40 ton," ujarnya.

Jumadi berharap ke depan harga karet di Bengkulu Utara kembali meningkat sehingga kesejahteraan petani dapat terjamin.

"Kedepan harapannya ya harga karet meningkat lah agar petani dapat sejahtera," harap Jumadi.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved