Sabtu, 2 Mei 2026

Gajah Mati di Mukomuko

BKSDA Selidiki Penyebab Kematian Induk dan Anak Gajah di Mukomuko, Turunkan Tim dan Dokter Hewan

BKSDA menurunkan tim gabungan dan dokter hewan untuk menyelidiki kematian induk dan anak gajah di Mukomuko, Sabtu (2/5/2026).

Tayang:
TribunBengkulu.com
GAJAH - Tim gabungan dan dokter hewan saat melakukan pemeriksaan gajah yang mati di wilayah konsesi PT Bentara Agra Timber (BAT), kawasan Hutan Produksi Air Teramang, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, Jumat (1/5/2026). Dokter hewan diterjunkan BKSDA Bengkulu untuk mengungkap penyebab kematian dua gajah Sumatera di Mukomuko. 
Ringkasan Berita:
  1. BKSDA menurunkan tim gabungan untuk identifikasi dua gajah mati di Mukomuko.
  2. Tim berjumlah delapan orang melibatkan polisi, TNI, dan TNKS.
  3. Nekropsi dilakukan untuk mengetahui penyebab dan waktu kematian.
  4. Gading induk gajah utuh, dugaan awal bukan perburuan liar.
  5. Populasi gajah di Bentang Sebelat diperkirakan tersisa 25 ekor.

 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) saat ini telah menurunkan tim gabungan untuk melakukan identifikasi atas dua ekor gajah yang mati.

Sebelumnya, pada Rabu 28 April 2026 kemarin, yang pertama kali menemukannya adalah warga di wilayah konsesi PT Bentara Agra Timber (BAT), kawasan Hutan Produksi Air Teramang, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu.

Warga yang menemukan dua ekor gajah mati ini lalu melaporkannya ke pihak BKSDA Bengkulu.

Pihak BKSDA juga telah menurunkan tim gabungan.

Tim gabungan ini berjumlah delapan orang untuk menangani temuan dua ekor gajah Sumatera yang mati di Kabupaten Mukomuko.

Tim tersebut melibatkan unsur kepolisian, TNI, Pos Gakkum Kehutanan Bengkulu, hingga Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) Resor Mukomuko.

Kepala Seksi Wilayah I BKSDA Bengkulu, Said Jauhari, mengatakan pihaknya juga melibatkan dokter hewan dalam proses penanganan di lapangan.

Baca juga: Misteri Kematian Induk dan Anak Gajah di Konsesi Perkebunan Swasta Mukomuko, Begini Kondisinya

“Tim gabungan sudah kita turunkan, kita juga melibatkan dokter hewan,” singkat Said Jauhari saat dihubungi TribunBengkulu.com, Sabtu (2/5/2026).

Langkah tersebut dilakukan untuk identifikasi sekaligus nekropsi terhadap bangkai induk dan anak gajah tersebut.

Menurut Said, proses identifikasi masih berlangsung untuk memastikan jenis kelamin serta usia kedua gajah Sumatera itu.

Namun, anak gajah yang ditemukan warga itu diperkirakan masih berusia di bawah satu tahun.

“Terkait penyebab kematian, kita juga masih menunggu setelah dilakukannya nekropsi. Termasuk untuk memastikan sudah berapa lama kedua ekor gajah tersebut mati,” jelas Said Jauhari.

Dua ekor bangkai gajah ditemukan mati di konsesi PT. Bentara Arga Timber (BAT), Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, Kamis (30/4/2026).
Dua ekor bangkai gajah ditemukan mati di konsesi PT. Bentara Arga Timber (BAT), Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, Kamis (30/4/2026). (TribunBengkulu.com/Firmansyah/KOMPAS.com)

Dua Gajah Mati

Dua ekor gajah sumatera ditemukan mati di wilayah konsesi PT Bentara Agra Timber (BAT), kawasan Hutan Produksi Air Teramang, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, pada Kamis (30/4/2026) kemarin.

Satwa dilindungi tersebut terdiri dari seekor induk gajah betina dan satu ekor anak gajah yang hingga kini belum diketahui jenis kelaminnya.

Penemuan bangkai gajah itu langsung dilaporkan masyarakat kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu.

Kepala Seksi Wilayah I BKSDA Bengkulu, Said Jauhari, membenarkan adanya laporan kematian dua gajah tersebut.

Menurutnya, pihak BKSDA langsung menerjunkan tim ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

“Kami menerima informasi dari masyarakat terkait adanya dua gajah yang ditemukan mati. Tim sudah menuju lokasi untuk melakukan nekropsi guna mengetahui penyebab kematian,” kata Said Jauhari saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Jumat (1/5/2026) malam.

Ia menjelaskan, hasil informasi awal yang diterima menunjukkan gading atau gigi caling induk gajah betina masih dalam kondisi utuh.

Hal itu mengindikasikan dugaan sementara kematian satwa tersebut bukan akibat perburuan liar.

“Gigi calingnya masih utuh, sehingga dugaan awal bukan karena perburuan,” ujarnya.

Said menegaskan, kejadian kematian gajah di sekitar konsesi PT BAT bukan pertama kali terjadi.

Karena itu, pihak perusahaan diminta ikut berperan aktif dalam menjaga habitat satwa liar yang berada di kawasan tersebut.

“Beberapa kali kasus kematian gajah terjadi di area sekitar konsesi PT BAT. Ini harus menjadi perhatian bersama,” tegasnya.

Kondisi Habitat Gajah

Kawasan tempat ditemukannya bangkai gajah diketahui masuk dalam Bentang Sebelat, salah satu habitat penting gajah sumatera di Bengkulu.

Namun, kondisi habitat satwa tersebut terus mengalami tekanan akibat perambahan hutan dan ekspansi perkebunan sawit ilegal.

Sebelumnya, Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki, mengungkapkan populasi gajah sumatera di Bentang Sebelat saat ini diperkirakan hanya tersisa 25 ekor.

Populasi itu tersebar di sejumlah kawasan hutan produksi dan hutan produksi terbatas di Mukomuko.

Menurut Rohmat, jalur jelajah gajah di Bentang Sebelat mulai terputus akibat maraknya pembukaan lahan sawit di kawasan hutan.

Meski demikian, pemerintah masih menemukan keberadaan anak gajah yang menandakan satwa tersebut masih berkembang biak di alam liar.

Pemerintah pusat, kata dia, telah memberikan perhatian serius terhadap penyelamatan habitat gajah sumatera di Bengkulu.

Upaya pengamanan kawasan hutan yang menjadi kantong habitat gajah terus dilakukan untuk mencegah kepunahan satwa dilindungi tersebut.

Gabung grup Facebook TribunBengkulu.com untuk informasi terkini

 

Sumber: Tribun Bengkulu
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved