Sabtu, 9 Mei 2026

Berita Bengkulu

Aksi Demo Nelayan Malabero Bengkulu Imbas BBM dan 2 Orang Ditahan

Empat hari tak melaut, Edi nelayan Malabero bingung beli seragam sekolah anak hingga uang jajan pun tak ada.

Tayang:
Panji Destama/TribunBengkulu.com/Muhammad Panji Destama Nurhadi
NELAYAN - Kolase Edi 51 Tahun saat diwawancarai wartawan dan aksi nelayan tradisional malabero Kota Bengkulu, Jumat (8/5/2026). Empat hari tak melaut, Edi nelayan Malabero bingung beli seragam sekolah anak hingga uang jajan pun tak ada. 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama

 


TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Nelayan tradisional di kawasan Malabero, Kota Bengkulu, mengaku terpukul akibat tidak bisa melaut selama beberapa hari terakhir.

 


Sebelumnya, bahan bakar minyak (BBM) solar yang digunakan nelayan untuk melaut disita aparat kepolisian.

 


Salah satunya nelayan tradisional malabero Edi (51) turut merasakan dampat tak ada nya BBM, ia sudah melaut sejak 35 tahun dan menggantungkan hidup dari laut.

 


Setiap hari Edi bersama teman-teman nelayan nya sekitar pukul 00.00 WIB, mulai berangkat untuk melaut, ia melaut hingga ke area Kabupaten Seluma dan pulang sekitar pukul 14.00-16.00 WIB.

 


Edi menceritakan dirinya sudah empat hari tidak melaut akibat persoalan distribusi bahan bakar minyak (BBM) untuk nelayan yang kini menjadi polemik.

 


Dampaknya, kebutuhan rumah tangga hingga biaya sekolah anak-anaknya mulai terganggu.

 


“Anak saya yang nomor lima mau masuk SMA. Dia minta dibelikan seragam sekolah, tapi kami belum tahu mau beli pakai apa,” kata Edi saat diwawancarai TribunBengkulu.com, Jumat (8/5/2026).

 


Edi mengatakan dirinya memiliki delapan anak. Sebagian sudah bekerja, namun masih ada yang duduk di bangku SD dan SMP.

 


Dalam kondisi tidak melaut, ia mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk uang jajan anak sekolah.

 


“Kalau tidak melaut, kami cuma bisa memikirkan apa yang dimakan di rumah. Kadang terpaksa berutang kalau ada yang mau memberi pinjaman,” ujarnya.

 


Menurut Edi, penghasilan nelayan tradisional tidak menentu. Bahkan, dalam kondisi normal sekalipun, hasil melaut terkadang hanya cukup untuk kebutuhan harian.

 


“Sekarang nelayan itu rezekinya seperti harimau, kadang dapat kadang tidak. Ada kalanya kami cuma bawa pulang Rp35 ribu sampai Rp50 ribu,” ungkapnya.

 


Ia menegaskan, anggapan nelayan selalu memperoleh penghasilan besar tidak sepenuhnya benar.

 


“Orang pikir nelayan sekali melaut bisa dapat Rp2 juta. Padahal kadang minyak saja tidak kembali modal,” katanya.

 


Untuk sekali melaut, satu kapal membutuhkan sekitar 60 liter BBM. Sementara kapal dengan dua mesin bisa menghabiskan hingga 80 liter per perjalanan.

 


Di tengah kondisi sulit itu, Edi berharap pemerintah memperhatikan nasib nelayan tradisional yang sepenuhnya bergantung pada laut sebagai sumber penghasilan.

 


“Kami ini tidak punya pekerjaan lain. Dari nenek moyang memang nelayan. Kami hanya ingin pemerintah memikirkan bagaimana nasib kami ke depan,” ujarnya.

 


Edi juga menjelaskan, selama ini nelayan membeli BBM dengan harga Rp8 ribu per liter dari pengecer yang mengambil minyak dari agen.

 


Menurutnya, harga tersebut sudah menyesuaikan biaya transportasi dan operasional distribusi.

 


“Kalau memang pemerintah mau, buatkan saja agen resmi dekat sini supaya nelayan bisa ambil langsung,” katanya.

 


Ia menambahkan, selama bertahun-tahun pola distribusi BBM tersebut berjalan tanpa persoalan.

 


Namun kini, polemik yang terjadi membuat aktivitas melaut terganggu dan berdampak langsung terhadap ekonomi nelayan.

 


“Hilang mata pencarian kami. Empat hari tidak melaut itu sangat terasa bagi keluarga nelayan,” tutup Edi.

Sumber: Tribun Bengkulu
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved