Saksi Kata
Wawancara Eksklusif BPK Wilayah 7 Bengkulu-Lampung: Tengkorak dan Tradisi Megalitikum di Kepahiang
Tiga tengkorak di Kepahiang ungkap tradisi penguburan megalitikum yang masih relevan hingga kini.
Penulis: Muhammad Panji Destama Nurhadi | Editor: Ricky Jenihansen
Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU – Penemuan tiga tengkorak manusia di Kelurahan Durian Depun, Merigi, Kabupaten Kepahiang pada Selasa (9/12/2025) lalu menjadi sorotan karena awalnya diduga misterius, namun dipastikan bukan hasil tindak pidana.
Setelah fakta sebenarnya terungkap, penemuan tengkorak tersebut kini menjadi perhatian di dunia arkeologi dan komunitas ilmiah.
Tengkorak ini ditemukan secara tidak sengaja oleh dua pekerja peternakan, Rijal dan Subari, saat menggali tanah di sekitar kandang ayam.
Mereka menemukan sebuah kendi tua yang pecah dan berisi tiga tengkorak.
Berdasarkan hasil identifikasi awal, tim Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah 7 Bengkulu-Lampung menyimpulkan bahwa temuan tersebut merupakan praktik second burial atau penguburan kedua dari zaman megalitikum, kemungkinan terdiri dari seorang ibu, bapak, dan anak, termasuk satu tengkorak bayi.
TribunBengkulu.com telah melakukan wawancara eksklusif dengan Kepala BPK Wilayah 7 Bengkulu-Lampung, Iskandar Mulia Siregar, yang memaparkan latar belakang tradisi penguburan sekunder dan konteks sosial budaya manusia pada masa megalitikum.
Kepala BPK Wilayah 7, Iskandar Mulia Siregar, juga mengungkapkan fakta baru terkait temuan tiga tengkorak di Kepahiang, Bengkulu.
Berikut petikan wawancara eksklusif yang menjelaskan proses identifikasi, makna tradisi second burial, serta saran BPK Wilayah 7 bagi masyarakat terkait pelestarian peninggalan budaya di Kepahiang.
Apa kesimpulan awal dari hasil kajian Balai Pelestarian Kebudayaan?
Iskandar mengungkapkan dari temuan 3 tengkorak ini, pihaknya melihat dari pola yang ditemukan merupakan tradisi atau penguburan ke dua dalam kata lain second burial.
“Di awal kita tidak terlibat secara langsung, kemudian kita dapat informasi sudah diselamatkan, kami langsung ke lokasi untuk melihat dan ikut menyelamatkan temuan itu,” ungkap Iskandar di Studio TribunBengkulu.com, Selasa (6/1/2026).
“Kalau dilihat dari temuan ini, merupakan penguburan kedua atau second burial, jadi setelah dimakamkan, ada upcara khusus dengan alasan tertentu, dimakamkan ulang lalu dimasukkan ke tempayan,” lanjut Iskandar.
Iskandar menjelaskan, dari indentifikasi awal, pihaknya menyimpulkan kemungkinan tengkorak yang ditemukan ini adalah ibu, bapak dan anak.
Apa indikator utama yang menguatkan kesimpulan tersebut?
Kenapa bisa diasumsikan tengkorak yang ditemukan ini bapak, ibu dan anak, lanjut Iskandar, karena dari informasi forensik yang kebetulan sudah dilaksanakan oleh pihak kepolisian.
SaksiKata
kepahiang
Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah 7 Bengkulu-La
Megalitikum
Bengkulu
Wawancara Eksklusif
Eksklusif
Multiangle
| Akhirnya Batik Air Putuskan Nasib Pramugari Palsu Khairun Nisya, Dituntut Penjara karena Penipuan? |
|
|---|
| Setelah Jadi Tersangka, Eggi Sudjana dan Damai Lubis Akui Ijazah Jokowi Asli Usai Pertemuan di Solo |
|
|---|
| Inilah Hasil Pemeriksaan Camat Air Periukan dan Guru PPPK SDN 65 Seluma yang Digerebek Berduaan |
|
|---|
| Kondisi Terkini Liku Sembilan Bengkulu Tengah, Proses Evakuasi Truk Trailer yang Tergelincir Selesai |
|
|---|
| Residivis Kembali Diciduk, Kasus Penyalahgunaan Narkoba di Bengkulu Terungkap |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/Tengkorak-megalitikum-Kepahiang.jpg)