Kamis, 16 April 2026

Local Experience Bengkulu

Air Terjun Pipa Belanda, Permata Tersembunyi di Dataran Tinggi Kabawetan

Pesona wisata alam air terjun pipa belanda di Desa Air Sempiang, Kabupaten Kepahiang.

Penulis: Bima Kurniawan | Editor: Ricky Jenihansen
HO TribunBengkulu.com/Dok Pribadi
AIR TERJUN PIPA BELANDA - Potret wisata air terjun pipa belanda Kepahiang. Pesona wisata alam air terjun pipa belanda di Desa Air Sempiang, Kabupaten Kepahiang. 
Ringkasan Berita:
  1. Air Terjun Pipa Belanda berada di Desa Air Sempiang, Kecamatan Kabawetan, Kabupaten Kepahiang.
  2. Dikelola Pokdarwis sejak 2021 dengan 14 anggota aktif.
  3. Nama diambil dari pipa besi peninggalan Belanda yang masih berfungsi.
  4. Buka Sabtu-Minggu pukul 08.00–17.00 WIB. Tarif kebersihan Rp 2.500, camping Rp 25.000.
  5. Kunjungan meningkat hingga 40–50 orang per hari setelah viral di media sosial.

 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Di balik sejuknya dataran tinggi Kecamatan Kabawetan, Kabupaten Kepahiang, tersimpan sebuah destinasi alam yang masih terjaga keasriannya.

Air Terjun Pipa Belanda yang berada di Desa Air Sempiang menawarkan pengalaman wisata alam yang tenang dan bersahaja, jauh dari hiruk pikuk keramaian.

Perjalanan menuju air terjun ini menjadi bagian menarik dari pengalaman berwisata.

Pengunjung akan terlebih dahulu disuguhi hamparan hijau Kebun Teh Kabawetan yang membentang luas.

Barisan tanaman teh yang rapi berpadu dengan latar Bukit Hitam, menciptakan suasana sejuk dan menenangkan sepanjang perjalanan.

Selepas kebun teh, jalur dilanjutkan dengan menyusuri perkebunan kopi milik warga setempat.

Dari titik ini, suara gemuruh air mulai terdengar samar, menjadi penanda bahwa Air Terjun Pipa Belanda kian dekat.

Setelah berjalan kaki sekitar 15 menit, pengunjung akan tiba di lokasi air terjun yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan.

Dikelola Pokdarwis Sejak 2021

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pesona Air Sempiang Sejahtera, Bayu Suhenda, menuturkan bahwa pengelolaan destinasi ini telah dirintis sejak 2021.

“Pengelolaan wisata Air Terjun Pipa Belanda itu sebenarnya kami rintis di 2021 untuk lomba desa wisata di Provinsi Bengkulu dan sampai sekarang masih berjalan,” ujar Bayu.

Ia menjelaskan, hingga kini terdapat 14 anggota Pokdarwis yang aktif mengelola kawasan tersebut.

Nama Air Terjun Pipa Belanda sendiri bukan tanpa alasan.

Di atas aliran air terjun, melintang sebuah pipa besi tua peninggalan masa kolonial Belanda.

Dahulu, pipa tersebut dibangun untuk mendistribusikan air bersih ke kawasan kebun teh.

Menariknya, hingga kini pipa itu masih berfungsi dan tetap digunakan oleh pihak perkebunan, menjadi ikon sekaligus saksi sejarah di tengah keasrian alam.

Konsep Alami dengan Fasilitas Terbatas

Dalam pengelolaannya, Pokdarwis memilih mempertahankan konsep alami.

Fasilitas yang tersedia masih terbatas.

“Untuk sarana dan prasarananya kami masih menjaga kealamiannya, jadi masih belum banyak sarana prasarana di sana karena kami terkendala dengan anggaran dan SDM,” ungkap Bayu.

Saat ini, jadwal kunjungan lebih diutamakan pada akhir pekan.

“Sementara ini jadwal buka lebih diutamakan Sabtu-Minggu pukul 08.00 sampai 17.00 WIB. Di luar itu, jika ingin berkunjung bisa hubungi kami terlebih dahulu,” bebernya.

Untuk menikmati keindahan alam tersebut, pengunjung hanya dikenakan tarif kebersihan sebesar Rp 2.500 per orang.

Bagi yang ingin bermalam, tersedia area camping dengan biaya sewa lahan Rp 25.000.

Pokdarwis juga menyediakan homestay bagi wisatawan dari luar daerah.

“Kita juga menyediakan penjemputan untuk pengunjung dari luar daerah, baik dari bandara maupun dari pusat Kota Kepahiang, untuk biaya bisa dikomunikasikan nanti,” jelas Bayu.

Area parkir saat ini masih memanfaatkan lahan milik pemerintah daerah yang dikelola masyarakat setempat.

“Di kawasan wisata juga ada area parkir yang masih menumpang di lahan pemda, tapi itu di luar ranah dan kendali kami karena dikelola masyarakat di situ,” ujarnya.

Kunjungan Meningkat dan Harapan Pengembangan

Belakangan ini, kunjungan wisatawan meningkat signifikan, terutama setelah viral di media sosial.

“Akhir-akhir ini kunjungan sedang ramai sekali, mungkin karena viral di sosial media. Dalam sehari rata-rata 40 sampai 50 orang, yang rata-rata berasal dari sekitar Provinsi Bengkulu seperti Curup, Benteng, Seluma, dan Manna,” ungkap Bayu.

Daya tarik utama air terjun ini terletak pada keasrian dan nuansa alaminya yang masih terjaga.

Hamparan pepohonan hijau yang menyatu dengan alam serta gemuruh air yang menenangkan menjadi spot foto favorit para pengunjung.

“Yang menjadi daya tariknya adalah alami dan asriannya yang menjadi spot foto indah tersendiri bagi pengunjung,” terang Bayu.

Informasi mengenai destinasi ini dapat diakses melalui akun media sosial Instagram, Facebook, dan TikTok dengan nama Desa Wisata Air Sempiang.

Ke depan, Pokdarwis berharap adanya dukungan untuk pengembangan fasilitas penunjang.

“Harapan kami fasilitas di tempat wisata ramah dan nyaman untuk pengunjung seperti akses jalan masuk wisata, gazebo, toilet, mushola, warung dan lainnya. Target kami ke depan, wisata ini dapat menjadi daya tarik pengunjung wisatawan luar daerah,” harap Bayu.

Dengan perpaduan keindahan alam yang masih alami serta nilai sejarah dari pipa peninggalan kolonial, Air Terjun Pipa Belanda bukan sekadar tempat berwisata.

Ia merupakan potret harmoni antara alam, sejarah, dan semangat masyarakat desa dalam merawat potensi yang mereka miliki.

Gabung grup Facebook TribunBengkulu.com untuk informasi terkini

 

Sumber: Tribun Bengkulu
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved