Berita Nasional
Inilah Daftar Barang yang Berpotensi Naik Harga saat Dolar AS Meroket
Pelemahan rupiah hingga menembus Rp18 ribu per dolar AS berpotensi memicu kenaikan harga berbagai barang.
Ringkasan Berita:
- Pelemahan rupiah berpotensi memicu kenaikan harga barang.
- Barang elektronik dan pakaian dinilai rentan mengalami kenaikan harga.
- FMCG, material bangunan, dan produk otomotif juga terdampak.
- Wijayanto menyebut rupiah melemah terhadap 86 persen mata uang dunia.
- Tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berlanjut hingga 2027.
TRIBUNBENGKULU.COM - Melemahnya nilai tukar rupiah hingga menembus Rp18 ribu per dolar AS berpotensi memicu kenaikan harga berbagai barang kebutuhan masyarakat di Indonesia.
Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengatakan pelemahan rupiah membuat biaya impor menjadi lebih mahal sehingga berdampak terhadap kenaikan biaya produksi dan harga barang di pasaran.
Menurut dia, hampir seluruh sektor berpotensi terdampak apabila pelemahan rupiah berlangsung dalam jangka panjang.
Namun, terdapat sejumlah kelompok barang yang dinilai paling rentan mengalami kenaikan harga.
"Barang elektronik, pakaian, FMCG, bangunan, dan otomotif. Hampir semua terkena dampak," kata Wijayanto kepada Kompas.com, Kamis (4/6/2026).
Berikut daftar barang yang berpotensi mengalami kenaikan harga saat dolar AS menguat dan rupiah melemah:
Produk Elektronik
Barang elektronik menjadi salah satu produk yang paling rentan mengalami kenaikan harga karena sebagian besar komponen maupun bahan bakunya masih bergantung pada impor.
Kenaikan nilai dolar AS membuat biaya pengadaan barang elektronik menjadi lebih mahal.
Pakaian
Produk pakaian juga berpotensi mengalami kenaikan harga, terutama yang menggunakan bahan baku impor maupun diproduksi menggunakan mesin dan komponen dari luar negeri.
Barang Konsumsi Cepat Saji
Barang konsumsi cepat saji atau fast moving consumer goods (FMCG) turut berpotensi mengalami kenaikan harga.
Material Bangunan
Pelemahan rupiah juga dapat berdampak terhadap harga material bangunan.
Hal ini terjadi karena sebagian bahan baku maupun peralatan konstruksi masih berasal dari luar negeri dan menggunakan transaksi dolar AS.
Produk Otomotif
Harga kendaraan bermotor seperti mobil dan sepeda motor juga dinilai berpotensi naik apabila pelemahan rupiah berlangsung dalam jangka panjang.
Selain harga kendaraan, biaya cicilan kredit kendaraan juga dapat meningkat apabila disertai kenaikan suku bunga pinjaman.
Wijayanto menjelaskan, dalam enam bulan terakhir rupiah telah mengalami depresiasi sebesar 7,29 persen terhadap dolar AS.
Menurut dia, pelemahan tersebut tidak hanya terjadi terhadap dolar AS, tetapi juga terhadap sebagian besar mata uang dunia.
"Dalam periode yang sama, rupiah melemah terhadap 86 persen mata uang di dunia. Rupiah juga melemah terhadap seluruh mata uang utama di ASEAN, meliputi SGD, THB, MYR, VND, dan PHP," ujarnya.
Ia menilai, nilai tukar dolar AS yang terlalu tinggi dapat memberikan tekanan besar terhadap aktivitas ekonomi dan dunia usaha di Indonesia.
Selain itu, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berpotensi berlanjut hingga 2027 apabila faktor-faktor fundamental ekonomi belum menunjukkan perbaikan yang signifikan.
Berdasarkan pantauan TribunBengkulu.com pada Minggu (7/6/2026), kurs rupiah berada di level Rp18.154 per dolar AS.
| Rupiah Tembus Rp18 Ribu, DPR Ingatkan Ancaman Kenaikan Harga Obat |
|
|---|
| Dasco Turun Tangan Panggil Menkeu dan Gubernur BI, Bahas Kondisi Ekonomi? |
|
|---|
| Reaksi Lucu Bahlil saat Disambut dengan Lagu Mas Bahlil Ganteng di Mubes Kosgoro |
|
|---|
| Rupiah Tembus Rp18 Ribu per Dolar, Ganjar Pranowo Angkat Suara Singgung Reformasi Birokrasi |
|
|---|
| Dilantik Jokowi, Dicopot Prabowo: Inilah Perjalanan Karier dan Rekam Jejak Dadan Hindayana |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/bencoolen-mall-1241.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.