Lemang Tapai, Makanan Tradisional Khas Bengkulu yang Tak Terkikis Zaman

Lemang tapai merupakan salah satu makanan khas Bengkulu yang terus eksis sampai saat ini.

Penulis: Beta Misutra | Editor: Yunike Karolina
Beta Misutra/TribunBengkulu.com
Sentra penjualan lemang tapai kuliner khas Bengkulu di Jalan Sungai Rupat Lingkar Barat, Kota Bengkulu. 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Beta Misutra

 

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Lemang tapai merupakan salah satu kuliner khas Bengkulu yang terus eksis sampai saat ini.

Lemang sendiri merupakan makanan yang terbuat dari beras ketan yang dimasak dengan cara dimasukkan ke dalam bambu dan dibakar.

Sedangkan tapai yang biasanya dimakan berpasangan dengan lemang, merupakan tapai yang terbuat dari ketan hitam yang difermentasikan menggunakan ragi.

Salah satu sentral penjualan lemang tapai yang terkenal di Kota Bengkulu berada di sepanjang Jalan Sungai Rupat  Lingkar Barat Kota Bengkulu, tepatnya di sepanjang jalan dekat jabatan Sungai Rupat sampai ke jalan dua jalur menuju Pagar Dewa.

Dikatakan Fitri, salah satu penjual lemang tapai di Jalan Sungai Rupat Kota Bengkulu menyatakan, ada puluhan penjual lemang tapai yang ada di lokasi tersebut. Dimana lokasi tersebut sudah menjadi sentral penjualan lemang tapai sejak puluhan tahun yang lalu.

"Di sini yang jual lemang tapai mungkin ada sekitar 20 orang lebih. Kalau persatuan khusus penjual lemang tapai kami tidak ada. Tapi kami setiap bulan itu rutin menggelar arisan khusus sesama pedagang lemang tapai di jalan sungai Rupat ini," ungkapnya.

Untuk harga sendiri, lemang tapai di sini dibandrol dengan harga yang cukup terjangkau, yakni Rp 5.000 untuk lemang dengan bambu kecil dan Rp 10.000 untuk ukuran bambu yang besar.

Sedangkan untuk harga tapainya sendiri  dijual dengan harga Rp 5.000 per gelas kecil.

"Biasanya yang beli itu berpasangan antara lemang dan tapainya. Jadi kalau Lemang kecilnya misalnya 2, kemudian tapainya 4 gelas, berarti Rp 30.000. Selain itu ada juga air tapai yang kita jual dengan harga Rp 15.000 untuk botol kecil dan Rp 20.000 untuk botol besar," katanya.

Menurut Fitri, air tapai sendiri selain untuk dikonsumsi bersama dengan lemang, juga biasanya dibeli untuk obat tradisional.

"Kalau yang biasa beli, air tapai ini dipercaya bisa mencegah dan menyembuhkan masuk angin, menghangatkan tubuh dan ada juga yang percaya bisa mengobati pegal linu," ujarnya.

Terpisah Erna, penjual lemang tapai lainnya membeberkan ada tata cara khusus untuk membuat lemang ini menjadi enak dan harum.

Pertama beras ketan yang dibeli juga harus dalam keadaan yang bagus, dan selanjutnya dicuci bersih.

Sebelum beras ketan yang sudah dicuci bersih dimasukkan ke dalam bambu, bambu terlebih dahulu dilapisi dengan daun pisang, untuk menambahkan aromanya.

Bambu yang digunakan juga harus bambu muda, kemudian setelah dilapisi daun pisang dan beras ketan, kemudian diisi lagi dengan santan dengan ukuran tertentu.

"Untuk memasaknya, ketan yang sudah dimasukkan kedalam bambu ini dimasak dengan cara dibakar dengan bara api kurang lebih selama 2 jam. Setelah itu lemang didiamkan terlebih dahulu baru kemudian siap untuk dimakan bersama tapai ketan hitam. Ketan Hitam sendiri dicampur sedikit dengan ketan putih agar rasanya tidak terlalu pahit," terangnya.

Erna mengakui tidak jarang juga lemang dan tapai ini diborong sebagai oleh-oleh untuk masyarakat Kota Bengkulu yang akan bepergian keluar provinsi Bengkulu. Termasuk juga orang dari luar Provinsi Bengkulu yang ingin kembali ke tempat asalnya.

"Sering juga dari luar daerah, pernah itu dari Aceh, dari Palembang, dari Jakarta, Medan juga ada. Biasanya kalau disini itu ramainya pada hari libur sekolah, ataupun libur libur nasional," jelasnya.

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved