Sembahyang Umat Hindu
Urutan Persembahyangan Panca Sembah Mantra Dupa dan Bunga Lengkap dengan cara-caranya
Berikut ini Urutan Mantra Panca Sembah serta mantra Dupa dan Bunga yang umat Hindu lakukan dalam persembahyangan dalam Agama Hindu.
Penulis: Yuni Astuti | Editor: prawira maulana
6. Oṁ ksāntavyah kayiko dosāh
kṣantavyo vāciko mama
kṣāntavyo mānaso dosāh
tat pramādāt kṣamasva mām
Oṁ śāntiḥ śāntiḥ śāntiḥ,Oṁ
Artinya :
1. Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa kami menyembah kecemerlangan dan kemahamuliaan Sang Hyang Widhy Wasa yang menguasai bumi, langit dan sorga, semoga Sang Hyang Widhy Wasa menganugrahkan kecerdasan dan semangat pada pikiran kita.
2. Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, semua yang ada berasal dari Sang Hyang Widhy Wasa baik yang telah ada maupun yang akan ada, Sang Hyang Widhy Wasa bersifat gaib tidak ternoda terikat oleh perubahan, tidak dapat diungkapkan, suci, Sang Hyang Widhy Wasa, tidak ada yang kedua
3. Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, engkau disebut Siwa yang menganugrahkan kerahayuan, Mahadewa (dewata tertinggi), Iswara (maha kuasa), Parameswara (sebagai maharaja adiraja), Brahma (pencipta alam semesta beserta isinya), Wisnu (memelihara alam semesta), Rudra (yang sangat menakutkan) dan sebagai Purusa (kesadaran agung).
4. Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, hamba ini papa, perbuatan hambapun papa, diri hamba ini papa, kelahiran hamba papa, lindungilah hamba Sang Hyang Widhy Wasa, Sang Hyang Widhy Wasa yang bermata indah bagai bungan teratai, sucikanlah jiwa dan raga hamba.
5. Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, ampunilah hamba Sang Hyang Widhy Wasa yang maha agung anugrahkan kesejahteraan kepada semua mahluk, bebaskanlah hamba dari segala dosa, lindungilah hamba oṁ Sang Hyang Widhy Wasa.
6. Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, ampunilah dosa yang dilakukan badan hamba, ampunilah dosa yang keluar melalui kata-kata hamba, ampunilah dosa pikiran hamba, ampunilah hamba dari kelahiran hamba.
Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa anugrahkanlah kedamaian, kedamaian, kedamaian selalu.
Mantra Panca sembah atau Kramaning Sembah
Ketika telah selesai melakukan puja Trisandya dilanjutkan membacakan mantra Panca Sembah atau kramaning sembah . Jika tidak melakukan persembahyangan Trisandya (mungkin tadi sudah di rumah) atau langsung memuja dengan Kramaning Sembah, jikan telah membaca mantram untuk dupa langsung saja menyucikan bunga atau kawangen yang akan dipakai muspa. Berikut ini sikap,urutan serta bacaan panca sembah atau kramaning sembah yang bisa kalian ikuti:
Hal yang pertama yang harus kalian perhatikan adalah sikap tangan yakni :
Kehadapan Sang Hyang Widhy Wasa, cakupkan tangan diletakan di atas dahi sehingga ujung jari ada di atas ubun-ubun.
Kehadapan para Dewa (Dewata), ujung jari-jari tangan diatas, diantara kening.
Kepada Pitara (roh leluhur), ujung jari-jari tangan berada di ujung hidung.
Kepada sesama Manusia, tangan dihulu hati, dengan ujung jari tangan mengarah keatas.
Kepada para Butha, tangan dihulu hati, tetapi jari tangan mengarah kebawah
(1). Sembah puyung (cakupan tangan kosong)
Oṁ Ᾱtmā tatvātmā śuddha mām swāhā
Oṁ atma, atmanya kenyataan ini, bersihkanlah hamba
(2). Menyembah Sang Hyang Widhy Wasa sebagai Sang Hyang Aditya menggunakan sarana bunga berwarna putih :
Oṁ Ᾱdityasyā paraṁ jyoti
rakta tejo namostute
sweta paṇkaja mādhyastha
bhāskarāya namo’stute
Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, Sinar Hyang Surya Yang Maha Hebat. Engkau bersinar merah, hamba memuja Engkau. Hyang Surya yang berstana di tengah-tengah teratai putih. Hamba memuja Engkau yang menciptakan sinar matahari berkilauan.
(3). Menyembah Sang Hyang Widhy Wasa sebagai Ista Dewata dengan sarana Bunga atau Kawangen.
Istadewata adalah dewata yang di inginkan kehadirannya pada waktu seseorang memuja keagungannya. Ista Dewata adalah perwujudan Sang Hyang Widhy Wasa dalam berbagai wujudNya. Jadi mantramnya bisa berbeda-beda tergantung di mana dan kapan bersembahyang. Mantram di bawah ini adalah mantram umum yang biasanya dipakai saat Purnama atau Tilem atau di Pura Kahyangan Jagat:
Oṁ nama dewa adhisthanāya
sarwa wyāpi wai śiwāya
padmāsana eka pratiṣṭhāya
ardhanareśvaryai namo’ namaḥ
Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, yang bersemayam pada tempat yang sangat luhur, kepada Hyang Siwa yang berada di mana-mana, kepada dewata yang bersemayam pada tempat duduk bunga teratai di suatu tempat, kepada Ardhanaresvari hamba memuja.
(4). Menyembah Sang Hyang Widhy Wasa sebagai pemberi anugrah menggunakan sarana bunga atau kawangen
Oṁ Anugraha manoharam
dewa dattā nugrahaka
arcanaṁ sarwā pūjanaṁ
namaḥ sarwā nugrahaka
Dewa-dewi mahāśiddhi
yajñānya nirmalātmaka
laksṣmi śiddhiśça dīrghāyuh
nirwighna sukha wṛddiśca
Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, Engkau yang menarik hati pemberi anugrah, anugrah pemberian Dewata yang maha agung, pujaan semua pujaan, hormat bhakti hamba pada-Mu, pemberi semua anugrah
(5). Sembah Puyung (cakupan tangan kosong)
Oṁ Deva sukṣma paramācintyāya nama swāhā.
Oṁ śāntiḥ śāntiḥ śāntiḥ,Oṁ
Oṁ Hormat kepada dewata yang yang tak terpikirkan yang maha tinggi yang gaib
Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa anugrahkanlah kedamaian, kedamaian, kedamaian selalu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/Persembahyangan-Umat-Hindu.jpg)